Addin Edisi 296: Penyakit Disebabkan Dosa atau Pola Hidup?

0
Foto: Dok. Internet

Oleh: M. Rio Fani

Kesehatan itu mahal dan sangat berharga. Apabila kita sehat, maka kita akan dapat melakukan aktifitas dengan tenang, tentram dan berlapang dada. Bahkan dari kegiatan yang kita lakukan bisa juga mendatangkan kebahagiaan hingga menumbuhkan semangat. Gaya hidup yang tidak sehat justru dapat meningkatkan risiko terserang berbagai penyakit. Bisa saja penyakit dalam ataupun penyakit mental.

Penyakit itu adalah sesuatu yang tidak diinginkan oleh manusia. Semua orang pasti pernah mengalami rasa sakit, tak bisa memandang dari sudut usia karena setiap orang pernah mengalami rasa sakit yang berbeda-beda. Dan orang yang selalu merawat dirinya sekali pun tidak bisa menjamin akan terhindar dari sebuah penyakit.

Dijelaskan dalam alquran Surah Al-Anbiyaa’ ayat 35 yang artinya : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan”. Dari ayat ini kita bisa menyimpulkan bahwa hidup tidak terlepas dari cobaan dan ujian, karena ujian juga merupakan sunatullah dalam kehidupan.

Sahabat Ibnu ‘Abbas yang diberi kekuasaan ilmu dalam tafsir alquran menafsirkan ayat ini: “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiataan, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Jarir).

Kemudian ketika kita bertanya, apakah penyakit disebabkan karena dosa? Penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuh. Terkadang penyakit merupakan sebuah hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Sebagaimana firma Allah ta’ala, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syura: 30).

Sakit Penghapus Dosa

Ketahui lah penyakit merupakan sebuah pengampunan atas dosa-dosa yang pernah dilakukan. Kunci yang perlu kita tanamkan adalah bersabar. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya : “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya”. (HR. Muslim)

Sakit juga berfungsi sebagai pengingat hamba atas kesalahan yang pernah dilakukannya. Di balik musibah yang akan mengembalikan hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah hingga ia kembali kepada-Nya. Karena kita suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsu kita dalam keadaan sehat wal’afiat dan sibuk dengan urusan dunia. Oleh karena itu Allah mencoba menyayangi hambanya dengan memberikan penyakit; guna kembali berserah diri kepada-Nya.

Suatu ketika Rabi’ah Al Adwaiyah salah seorang sahabat nabi pernah tersandung dan kakinya berdarah, namun dia justru tersenyum dan bersyukur. Dia memuji Allah subahana wataala. Kemudian ada salah seorang bertanya kepadanya; “Anda ini tersandung dan berdarah, mengapa malah tersenyum?,” lalu ia menjawab, “Iya, ini adalah dari kekasihku.”

Hal ini seperti antalogi pemuda yang sedang dicubit oleh kekasihnya. Luka yang sedianya sakit, namun karena dia pandang adalah siapa yang memberinya luka, maka rasanya tidak sakit, tapi nikmat atas keikhlasan dan sabar yang diterima dari rasa sakit tersebut.

Di zaman modern ini, pola makan bisa tidak terkendali. Banyaknya makan dan minuman yang siap saji membuat kalori dan gula yang tinggi menyebabkan munculnya penyakit. Kemudahan mendapatkan makanan siap saji, jajan-jajanan dan kue sebagai cemilan menjadi pola hidup santai. Tentunya dengan ini manusia akan minim bergerak yang termanjakan oleh teknologi berkembang. Misalnya memesan dengan cara online dengan aplikasi yang telah hadir di ponsel pintar kita.

Islam mengajarkan manusia agar makan dengan secukupnya saja dan tidak berlebihan. Allah berfirman; “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31). Bahkan nabi shallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa peut manusia adalah wadah yang paling buruk yang selalu diisi. “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihkannya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk bernafas.” HR. At-Tirmidzi (2380), Ibnu Majah (3349), Ahmad (4/132), dan lain-lain.

Meneladani Pola Hidup Rasulullah

Menjalankan ibadah dapat menghilangkan stress. Salat, misalnya, terutama jika dilakukan secara berjamaah. Menjalin silahturahmi, kemudian saling menyapa tetangga ataupun orang lain, dimana hal itu diyakini akan menimbulkan ketenangan. Pola hidup Rasulullah yang lain yaitu bersedekah, berbagi dan saling membantu.

Berbicara fisik, kita juga dianjurkan mengikuti pola hidup Rasullulah misalnya dengan memperbanyak minum air putih yang halal dan baik serta mengurangi minum air yang mengandung gula dan memperbanyak konsumsi buah-buahan. Kebiasaan Rasulullah inilah yang sebaiknya kita terapkan pada kehidupan kita sehari-hari.

Sekalipun kita tetap sakit jika sudah melaksanakan pola hidup seperti Rasulullah, maka tidak perlu dikeluhkan atau disesalkan. Justru kebahagiaan dapat kita peroleh ketika sakit. Dan Rasulullah sudah mengatakan bahwa sakit merupakan penghapus dosa.

”Ikuti Rasul itu sama dengan menunggu hadiah, mengikuti Sunnah adalah perbuatan menghasilkan pahala, dan pahala itu adalah hadiah. Di dunia ataupun akhirat, pasti dapat. Jadi, selalu berbahagia orang yang akan mendapatkan hadiah. Kejarlah hadiah itu dengan cata Rasulullah.” Pesan IKhsan K. Suhartono (Penggiat Kesehatan).

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial, jurusan Ilmu Komunikasi, semester III.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.