Addin Edisi 294: Kapan Kita Benar-Benar Salat?

0
Foto: Dok. Internet

Oleh: Nadilla Putri

Salat adalah sebuah perintah dari Allah SWT. Perintah ini pertama kali disampaikan oleh Nabi  Muhammad Saw saat beliau pulang dari perjalanan isra mikraj. Istilah salat tak jarang dikaitkan dengan pengabdian seorang hamba kepada pencipta-Nya. Alquran tidak menjelaskan secara rinci bagaimana gerakan salat. Tapi, disebutkan oleh Nabi Muhammad Saw dalam hadisnya. Gerakan salat meliputi takbiratulihram, rukuk, itidal, sujud, duduk antara dua sujud, duduk tasyahud awal dan akhir, dan salam. Sudahkah kita melaksanakan salat?

Menyikapi gerakan salat, sudahkah kita sabar dalam melakukannya? Salat harus dilakukan dengan sabar. Rukun salat yang sering  dilupakan adalah thuma’ninah. Padahal, thuma’ninah adalah salah satu indikator yang dapat melatih kesabaran dalam salat. Tuma’ninah adalah diam sejenak atau tenang.

Nabi Saw bersabda, “Jika kamu berdiri untuk salat maka bertakbirlah, lalu baca ayat yang mudah dari Alquran. Kemudian, rukuklah hingga benar-benar thuma’ninah dalam rukuk, lalu bangkitlah dari rukuk hingga kamu berdiri tegak, kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud, lalu angkat kepalamu untuk duduk hingga thuma’ninah dalam keadaan dudukmu. Kemudian lakukanlah itu di seluruh shalatmu.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Kunci salat adalah sabar. Sabar dalam mengharap pertemuan dengan-Nya. Untuk dapat bertemu dengan-Nya dalam salat, kita perlu khusyuk. Kebanyakan orang melakukan salat hanya sebagai sebatas kewajiban saja. Ada yang beranggapan salat itu sebagai sarana meditasi. Tanpa disadari, beberapa dari kita melakukan salat hanya sekedar gerak tanpa memaknai maknanya. Salat adalah sarana untuk mengingat Allah. Allah SWT berfirman dalam surah Thaha ayat 14, “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

Tapi, ada pula orang yang ketika salat mengingat kejadian yang lain. Ini adalah penting untuk mengontrol pikiran agar khusyuk dalam salat. Padahal dikatakan dalam Alquran, Allah itu sangat dekat dengan kita bahkan sangat dekat dari urat nadi. Hal ini tercantum dalam surah Qaf ayat 16, “Dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

Ada juga orang yang dalam salat memfokuskan pada kakbah. Padahal Allah tak dapat disamakan dengan sesuatu yang lainnya. Salat yang benar adalah adalah penghayatan makna dari setiap bacaan salat dan gerakan yang dilakukan dengan sabar. Dalam surah Al Baqarah ayat 153 Allah berfirman, “Wahai orang-orang beriman jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. “

Sebenarnya salat itu sebagai sarana memohon. Ada banyak doa dalam bacaan salat jika kita telusuri. Sebenarnya dalam salat kita sedang berdoa dan memuji Allah. Dalam bacaan salat ada doa yang tanpa kita sadari. Cobalah cermati. Mulai dari doa iftitah sampai salam, ada berapa permintaan yang kita sebutkan? Berdoalah dengan kesungguhan hati bukan basa-basi.

Surah pembuka yakni Alfatihah. Kita memuji Allah sebagai Tuhan semesta alam, yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang menguasai hari pembalasan. Kita pun mengakui hanya sebagai hamba yang lemah yang meminta pertolongan kepada-Nya. Kita meminta agar diberi petunjuk agar tidak sesat, agar berada pada jalan yang lurus. Dalam rukuk dan sujud sebenarnya kita memuji Allah dan meminta agar ia mengampuni dosa kita. Saat duduk antara dua sujud kita meminta agar Allah mengampuni dosa kita, mengasihi kita, menutupi kekurangan kita (aib), dan memberi petunjuk kepada kita, dan mengangkat derajat kita serta memberi rezeki kepada kita.

Salat jika dilakukan dengan benar akan mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Itu semua akan mencerminkan kebaikan dalam perbuatan yang dilakukan. Kita tak jarang menyaksikan bahwa orang yang sudah salat tetapi, memiliki tabiat buruk. Dalam salat itu, hati dan pikiran cenderung sinkron. Hati mengingat Allah, merasakan keberadaan Allah, lisan melafalkan bacaan salat serta pikiran berusaha membayangkan dan memaknai doa kita dalam salat.

Dalam belajar saja terkadang kita harus berkonsentrasi penuh agar dapat memahami pelajaran. Maka, tak ada bedanya dalam salat jika kita benar-benar ingin mengharapkan rida-Nya, mengharap perjumpaan dengan-Nya. Seperti dikemukakan dalam surat Al Ankabut ayat 45, “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Tak jarang kita menemukan manusia sibuk yang mempunyai berjuta alasan untuk menunda salat atau bahkan dengan sengaja meninggalkannya. Padahal salat hanya beberapa menit, paling lama 10 menit. Salat sebenarnya meringankan beban bukan beban.

Bagaimana jika orang lalai dalam salat? Itulah sebenarnya awal kehancuran dari keberkahan hidupnya, kesempitan hidup dan kegelisahan dalam hatinya. salat diibaratkan seperti penyangga, jika kita ingin menguatkan suatu bangunan maka harus ada pondasi. Pun, jika kita ingin menghancurkan suatu bangunan akan lebih mudah jika menghancurkan pondasi atau tiangnya terlebih dahulu. Bangunan seperti apa yang akan kokoh jika pondasinya dihancurkan?

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sumatera Utara, jurusan Fisika, semester VII. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.