Addin Edisi 284: Keutamaan Salat Berjamaah

0
Ilustrasi: Putri Ayu Dahniar

Oleh: Rindiani

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang berwudu untuk salat dengan menyempurnakan wudu, kemudian berjalan untuk menunaikan salat wajib, dan salat bersama manusia atau bersama jamaah atau di masjid, maka Allah akan mengampuni dosanya” (HR. Muslim)

Ketika kita membandingkan berbagai macam ibadah, maka akan kita dapati bahwa ibadah salat memiliki keistimewaan tersendiri. Ia merupakan tiang agama yang mana tidak akan tegak agama ini kecuali dengannya. Salat jamaah adalah sebab dosa diampuni, Rasullullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Bagi laki-laki perintah salat berjamaah adalah wajib sedangkan bagi wanita adalah sunah.”Rasulullah bersabda, “Salat seorang laki-laki dalam jamaah melebihi salatnya sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (HR. Muslim)

Rasulullah Saw. pernah diminta untuk memberikan sebuah rukhshah (keringanan) untuk umatnya yang kedua matanya sedang mengalami kebutaan. Awalnya nabi memberikan rukhshah padanya untuk bisa melaksanakan salat wajib di rumahnya sendiri, akan tetapi Rasulullah Saw. bertanya terlebih dahulu apakah dia masih bisa mendengar, dia menjawab iya, maka kemudian rukhshah itu dicabut oleh nabi sendiri dan kemudian kembali menganjurkan si buta tadi untuk tetap dapat salat berjamaah di masjid.

Anjuran tersebur tidak hanya menjadi pegangan bagi sahabat nabi ketika beliau masih hidup saja, melainkan juga dipegang teguh oleh umat sesudah beliau wafat. Salah satunya adalah seorang bernama Ubaidillah Ibn Umar Al-Qawaririy Rohimaallahuta’ala.

Ubaidillah tidak pernah sekalipun meniggalkan salat berjamaah di masjid, karena dia tahu betapa besar keutamaan salat berjamaah di masjid. Akan tetapi suatu ketika beliau didatangi oleh seorang tamu yang membuat Ubaidillah merasa sangat nyaman, hingga dia lupa bahwa dia telah meniggalkan salat Isya berjamaah di masjid.

Ketika mulai sadar dari kelalaiannya tersebut, Ubaidillah merasa sangat menyesalinya. Kemudian beliau mengelilingi seluruh masjid di kotanya untuk mencari masjid yang masih melaksanakan salat berjamaah, akan tetapi ia tidak menemukannya.

Suatu ketika ia ingat bahwa satu kali salat berjamaah itu setara dengan imbalan 27 kali lipat daripada salat sendiri. Maka ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan melaksanakan salat Isya sebanyak 27 kali sendiri.

Setelah itu, ia tidur dan bermimpi. Dalam mimpinya tersebut ia mendapati sebuah golongan yang sedang mengendarai kuda. Mereka mengendarai kuda dengan sangat cepat. Ubaidillah dan kudanya mencoba untuk mengejar mereka. Akan tetapi semakin kuat dia mengejar golongan tersebut, semakin jauh dan semakin cepat golongan tersebut melaju.

Hingga salah seorang dari golongan tersebut berteriak kepada Ubaidillah, “Wahai Ubaidillah, seberapa engkau berjuang untuk menggapai golongan kami, engkau tidak akan mampu menggapainya,” kemudian Ubaidillah bertanya, “Kenapa bisa seperti itu?”

Kemudian orang tersebut menjawab, “Karena sesungguhnya kami semua adalah orang-orang yang melakukan salat secara berjamaah, sedangkan engkau melaksanakannya dengan sendirian”.

Ubaidillah bangun dari tidurnya sembari menyesali kelalainnya karena tidak melakukan shalat berjamaah secara istikamah.

Dari kisah tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa salat wajib yang dilakukan secara berjamaah itu lebih baik daripada dilakukan sendirian, walau dilakukan sebanyak 27 kali tetap tidak bisa menggapai kelebihan salat berjamaah.

Di antara keutamaan salat jamaah adalah penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan seorang makmum yang mengucapkan “Aamiin” bersama-sama dengan imam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika imam berkata, ‘Bukan (jalan) orang-orang dimurkai (Yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani)’ (QS. Al-Fatihah : 7); maka katakanlah, ‘Aamiin’, karena sesungguhnya para malaikat juga berkata, ‘Aamiin’, dan imam juga mengatakan, ‘Aamiin’. Barangsiapa yang mengucapkan amin bersamaan dengan para malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, Muslim, dan An-Nasa’i. Lafadz hadis ini merupakan riwayat An-Nasa’i)

Keutamaan salat jamaah dibandingkan dengan salat sendirian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salat jamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat dibandingkan salat sendirian.” (HR. Bukhari)

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda: Barangsiapa mendengar azan kemudian tidak mendatanginya, maka tidak ada salat baginya (salatnya tidak sempurna), kecuali karena ada uzur. Di antara uzur yang membolehkan kita untuk meninggalkan salat berjamaah adalah sakit, bepergian (safar), hujan lebat, cuaca sangat dingin, dan uzur lainnya yang dijelaskan oleh syariat.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan keringanan untuk meninggalkan salat berjama’ah bagi orang yang buta dan tidak ada orang yang menuntunnya ke masjid. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Seorang laki-laki yang buta mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, ‘Wahai Rasûlullâh! Sungguh, aku tidak memiliki orang yang mau mengantarkanku menuju masjid.’ Maka ia meminta keringanan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk salat di rumahnya, dan Beliau memberikan keringanan baginya. Namun, ketika ia telah beranjak, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan berkata: Apakah engkau mendengar suara panggilan untuk salat (azan)?’ Ia menjawab, ‘Ya’ Maka Beliau bersabda, ‘Kalau begitu penuhilah panggilan itu,” kata Rasulullah.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu pernah berkata: Rumahnya (dia tidak salat berjamaah di masjid) niscaya kalian akan meninggalkan sunah nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunah-sunah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat. Dan saya melihat (pada zaman) kami (para sahabat), tidak ada yang meninggalkan salat berjamaah kecuali seorang munafik, yang telah diketahui kemunafikannya.

Di zaman sahabat, orang yang meninggalkan salat berjamaah dimarahi dan ditegur dengan keras oleh para sahabat. Para sahabat dan tabiin marah kepada laki-laki yang sehat, yang jelas tidak ada uzur syari untuk meninggalkan salat berjamaah.

Kerasnya teguran mereka terkandung dalam ucapan ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, yaitu: Dan saya melihat (pada zaman) kami (para sahabat), tidak ada yang meninggalkan salat berjamaah kecuali orang munafik, yang telah diketahui kemunafikannya.

Pada zaman para sahabat, hanya orang munafik yang meninggalkan salat berjamaah. Kalau datang waktu Subuh dan Isya:, mereka enggan untuk hadir salat berjamaah di masjid. Karena keadaan pada waktu keduanya gelap, berbeda dengan salat yang dilakukan di siang hari, mereka ikut berjamaah karena riya (pamer).

Konsekuensi yang terkandung dalam hal tersebut adalah jika ada kepentingan rapat, kerja, dan kesibukan yang lainnya, maka tinggalkanlah pekerjaan itu untuk sementara. Lalu kerjakanlah salat terlebih dahulu! Laki-laki mengerjakan salat berjamaah di masjid sedangkan wanita mengerjakan salat di rumah. Inilah anjuran Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Prodi Asuransi Syariah, semester III

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.