Addin Edisi 270: Mari Meneladani Sifat Uwais Al-Qarni

0
Ilustrasi: Putri Ayu Dahniar

Pernah berkeinginan menjadi terkenal? banyak followers? atau menjadi idola?

Tidak jarang di era serba modern dan serba ada ini, pemikiran per individu terus meningkat mengikuti perkembangan zaman. Berbagai cara pun kerap dilakukan agar dirinya terus menjadi sorotan publik. Dimulai dari cara yang biasa sampai cara di luar nalar.

Hal itu dilakukan demi memenuhi target kebahagiaan tiap orang, karena namanya bisa melesat di setiap penjuru dunia. Pujian dari berbagai pihak menjadi salah satu faktor sumber kebahagiaan itu. Dampaknya, ia terbuai dengan popularitas yang tinggi. Padahal, kebahagiaan tidak melulu soal banyaknya followers, terkenalnya diri, dan seberapa tinggi popularitas itu. Karena sejatinya pujian-pujian itu sifatnya semu, membuai hingga melalaikan. Hingga akhirnya melupakan hakikatnya sebagai manusia.

Pernah mendengar kisah Uwais al-Qarni kan? Seseorang yang namanya tidak diketahui, seseorang yang kehadirannya kerap dihindari, seseorang yang dipandang sebelah mata oleh penduduk bumi. Uwais, seseorang yang tidak dikenali di bumi, tapi sangat terkenal di langit. Betapa kisahnya begitu menginspirasi, terutama bagi muda-mudi muslim di negeri ini.

Uwais al-Qarni, penduduk dari Qaran di Yaman. Tinggi badannya sedang, berambut lebat dan merah, matanya biru, pundaknya lapang panjang, serta kulitnya kemerah-merahan. Kehidupannya sangat sederhana. Ayahnya meninggal saat ia masih kecil, dan kini hanya tinggal berdua dengan ibunya yang sudah renta dan buta. Meskipun hidupnya serba susah namun, membantu orang lain tidak pernah lupa. Meskipun makan serba kurang namun, tetap berbagi rezeki ke orang yang membutuhkan.

Lain halnya dengan manusia zaman now acuh tak acuh dengan sekitar. Saat ada rezeki lebih, enggan berbagi. Saat orang membutuhkan, enggan memberi bantuan. Minimnya pengetahuan tentang ilmu agama menjadi salah satu faktor yang memicu kurangnya rasa empati terhadap orang lain. Adab kian bergeser dari garis kehidupan. Alhasil, terpuruknya generasi muda berakhlak dan beragama. Sedangkan Uwais, semasa hidup mengabdikan diri sebagai hamba Allah yang taat. Pemuda yang baktinya kepada Ibu tidak bisa diragukan lagi. Menjaga serta mengurus ibunya dengan sepenuh hati.

Uwais, sosok pengidola Nabi Muhammad SAW, yang mempunyai keinginan agar semasa hidup dapat bertemu dengan beliau. Bahkan dikisahkan, Uwais pernah mematahkan giginya sendiri karena ia mendengar kabar bahwa Nabi Muhammad SAW dilempari batu oleh musuhnya hingga membuat giginya patah saat perang Uhud. Bentuk kecintaan dan kerinduan Uwais pada Nabi Muhammad SAW kian membuncah dari hari ke hari, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Madinah agar rindunya dapat terobati.

Berhari-hari ia lalui, menempuh perjalanan dari Yaman ke Madinah, hingga sampailah ia ke tujuan. Namun takdir berkata lain, ia harus menelan kekecewaan serta kesedihan mendalam tatkala Aisyah menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak ada di rumah disebabkan sedang berada di medan perang. Ingin menunggu, tetapi teringat akan ibu di rumah, akhirnya Uwais memutuskan untuk pulang. Mengubur rasa ingin untuk bertemu sang idola.

Berbeda dengan idola anak zaman sekarang, mereka lebih mendominasi kecintaan pada artis-artis dalam maupun luar negeri. Bahkan tidak sedikit yang rela menghabiskan uang demi tercapainya keinginan bertemu sang idola favorit. Idola yang auratnya diumbar sana-sini, bahkan idola yang anti dengan islam. Na’udzubillah!

Padahal sudah dijelaskan Allah melalui Firman-Nya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. al-Ahzaab: 21).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa sebaik-baiknya teladan dan idola adalah Rasulullah. Karena di hari akhir nanti kita akan bersama dengan seorang yang diidolakan. Hal ini juga dikuatkan dari sebuah hadits dari Rasulullah SAW:

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: ada seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang hari kiamat. Ia berkata, “Kapankah kiamat itu?” beliau menjawab, “Apa yang sudah engkau siapkan untuknya?” ia menjawab, “Tidak ada, kecuali aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian Nabi SAW bersabda, “Engkau bersama dengan siapa yang engkau cintai.”

Anas bin Malik berkata: “Kami tidak pernah merasa gembira seperti kegembiraan kami dengan ucapan Rasulullah SAW: “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai (di akhirat kelak).”

Kemudian Anas melanjutkan: “Sungguh saya mencintai Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar dan Umar dan berharap agar saya bisa bersama mereka (di akhirat kelak) disebabkan cintaku terhadap mereka, walaupun saya tidak beramal seperti amalan mareka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun, anjloknya pemikiran pemuda muslim di era milenial ini membuat mereka acuh tak acuh akan pentingnya menjaga batasan diri sebagaimana mestinya umat muslim yang beriman. Semua dianggap sama, tidak peduli apa yang dilakukan melanggar aturan atau tidak, yang terpenting mereka dapat menemukan kebahagiaan sendiri. Kebahagiaan yang sebagian besar hanya bersifat duniawi.

Kesederhanaan serta keteladanan Uwais lah yang membuat Nabi Muhammad SAW, memerintahkan Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib untuk meminta do’a serta istighfar darinya. Bayangkan saja, seseorang yang hidupnya dihiasi dengan kemiskinan, yang hidupnya kerap menjadi bahan olokan, hinaan, cacian, memiliki keistimewaan yang begitu besar.

Hingga saat Uwais wafat, kota Yaman digemparkan oleh kejadian aneh. Betapa heran mereka saat melihat orang-orang berbondong-bondong mengurus jenazahnya sampai proses pemakaman. Dari situlah diketahui bahwa manusia-manusia asing yang membantu mengurus jenazah Uwais adalah para malaikat. Dan tersadarlah mereka bahwa Uwais adalah seorang yang namanya tidak dikenal di bumi, tetapi terkenal di langit.

Dari kisah Uwais dapat diambil pelajaran bagi muda-mudi muslim zaman sekarang, bahwa tidak perlu menghalalkan segala cara agar bisa terkenal di dunia penuh drama ini, sebab itu semua hanya bersifat sementara. Dan juga, perlulah mengubah mindset dalam diri, bahwa sejatinya sebaik-baiknya idola adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, bukan boyband, girlband, atau artis-artis yang telah diperbudak oleh dunia.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.