Addin Edisi 266: Hafal Alquran, Cita-cita Tertinggi untuk Surga Tertinggi

0
Ilustrasi: Ditanty Chicha Novri

Oleh: Ussy Ariska Astri

“Baca dan naiklah ke tingkat berikutnya. Baca dengan tartil sebagaimana dulu kamu mentartilkan Alquran ketika di dunia. Karena kedudukanmu di surga setingkat dengan banyaknya ayat yang kamu hafal.” (HR. Abu Daud)

Siapa yang tidak tergiur dengan pernyataan beliau di atas? Hati siapa yang tak bergetar dijanjikan Allah kenikmatan kekal tiada banding? Surga, bukan tempat persinggahan seperti dunia. Bukan tempat ajang pencitraan, bukan pula tempat kesusahan. Ia ada, sebagaimana banyak Allah tuturkan dalam kalam-Nya, tentang keindahan dan kenikmatan yang mustahil bisa dideskripsikan oleh otak manusia.

Mencapai surga tidaklah mudah. Tak semudah membasahi tenggorokan dengan air, atau memasukkan makanan ke dalam mulut. Ibaratnya kita bisa menaiki kereta api ke satu tujuan jika menyerahkan secarik tiket yang telah kita bayar terlebih dahulu. Seperti itulah untuk bisa masuk ke surga. Tiketnya bukan kertas  yang dibeli dengan uang, melainkan amal baik. Ada satu ibadah yang mampu mengantarkan kita ke surga paling tinggi, yakni menghafal Alquran.

Orang-orang, jika ditanya apa cita-citanya, tentu akan menyebutkan sederet profesi yang bisa mengantarkannya pada kesuksesan. Dokter, pengusaha, pejabat, dan lainnya. Sangat jarang terdengar cita-cita seseorang menjadi penghafal Alquran. Padahal, cita-cita bukanlah memanjat gelar semata. Mempunyai cita-cita adalah hal yang sangat bagus, namun jangan sampai itu menjauhkan dan melalaikan kita dari Allah. Ketika cita-cita tergapai, mulut tak lagi mengucap syukur dan dada disesaki rasa sombong. Itu yang tidak boleh. Itu namanya bukan mengejar cita-cita, tapi mengejar dunia.

Kenapa harus menjadi penghafal Alquran? Memang tidak ada ayat Alquran dan sabda Nabi Sallallahu alaihi wasallam mewajibkan menghafal Alquran atau mengancam orang yang enggan menghafal Alquran. Tapi, acap kali kita melihat dan mendengar tentang kewajiban membaca Alquran, sebab ialah pedoman hidup umat. Meski hukum menghafal Alquran adalah sunah menurut Syekh Ibnu Baz, namun saya mengatakan kaidahnya bukan hanya dikerjakan berpahala ditinggalkan tidak berdosa, tetapi dikerjakan berpahala ditinggalkan rugi.

Kita bisa menilik kenapa kita harus menghafal Alquran dan rugi bila tidak menghafalkannya. Dengan menghafal Alquran, kita tahu, bagaimana menghargai waktu, mencerdaskan diri, dan memperoleh surga yang hakiki.

  • Menghargai waktu

Menghargai waktu dengan memanfaatkannya untuk kebaikan. Sebab waktu tak berulang, 24 jam sehari adalah waktu yang tidak sedikit. Mustahil rasanya jika seorang umat muslim tak memiliki waktu barang satu jam untuk menghafalkan satu atau dua ayat Alquran. Tidaklah sulit jika kita mau. Di era milenial yang di mana manusia sudah bergantung pada internet, bermain gawai untuk waktu satu jam saja tidak cukup, dua jam tidak cukup, atau beberapa jam pun tidak cukup. Namun waktu untuk Alquran, mungkin setengah jam saja sudah merasa jenuh.

Kita bisa meluangkan banyak waktu untuk menghafalkan lagu-lagu, rumus-rumus atau kosa kata bahasa asing sampai benar-benar mutqin (hafal betul). Namun untuk menghafalkan satu ayat Alquran saja masih beralibi tidak punya waktu, sulit menghafal. Padahal Allah akan mempermudah urusan orang yang mau mempelajari Alquran dan yang menghafalnya. Tapi jika kita terlalu cinta dunia, maka menghafalkan Alquran dianggap sebagai beban yang digendong tiap waktu. “…Allah menghendaki kemudahan bagimu, tidak menhendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah 185)

Sulit jika dianggap sulit, begitupun sebaliknya. Maka orang yang menghargai waktunya dengan menghafalkan Alquran termasuk sebaik-baik manusia. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari 4639)

  • Cerdas

Orang yang menghafal Alquran dilimpahi begitu banyak nikmat dunia, maupun akhirat. Sebab ayat-ayat Alquran yang suci selalu ia bawa di hatinya, memenuhi isi kepalanya dan dapat menjadi tameng untuk tidak melakukan maksiat. Menghafal Alquran sangat berefek pada kecerdasan. Pada anak, menghafal Alquran sangat efektif diterapkan, sebab melatih akal untuk terus berpikir, sarana untuk lebih dekat pada sang pencipta dan menjauhkannya dari pola pikir duniawi.

Bagi remaja dan orang dewasa juga serupa, menghafal Alquran akan melatih otak untuk selalu berpikir positif, mengurangi kepikunan yang bisa menyerang manusia sejak muda. Tapi perlu kita pahami, tujuan menghafal Alquran bukanlah untuk menjadi cerdas, atau untuk mendapatkan hal-hal duniawi semisal gelar, apalagi untuk memanen pujian dari orang lain. Keberkahan akan hilang jika menganggapnya seperti itu. Tujuan menghafal Alquran adalah demi mendekatkan diri kepada Allah, agar Allah pun senantiasa dekat pada kita. Dan kecerdasan, ketenangan, atau apapun itu semakin mudah kita raih bertabur keberkahan, insyaallah.

  • Memperoleh surga

Telah disebutkan bahwa penghafal Alquran dijamin masuk surga sesuai banyaknya ayat yang ia hafal. Ia naik ke surga tertinggi, ia pakaikan jubah kemuliaan dari Allah serta mahkota cahaya untuk kedua orangtuanya. Inilah harapan yang didamba setiap insan. Menghafal Alquran merupakan “tiket mahal” yang cukup sulit didapat untuk masuk surga, namun jangan berpikir “tiket mahal” itu hanya untuk orang-orang khusus, yang memiliki kemampuan lebih dalam menghafal. Allah beri kita alat untuk berpikir, maka gunakan. Hasan al-Banna mengatakan, “Pemikiran akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepada-Nya, ikhlas dalam berjuang di jalan-Nya, bersemangat dalam merealisasikannya, siap beramal demi menjelmakannya”. Tidak ada alasan untuk tidak bisa  memperoleh “tiket mahal” itu. Kapan lagi kita akan mempunyai cita-cita tertinggi itu? Mau usia berapa kita sempatkan untuk menghafal Alquran, bukankah Allahlah tempat kita kembali? Adakah tempat kekal selain surga yang kelak menjadi rumah terakhir kita?

Mulai hari ini, mintalah kepada Allah agar Dia mempermudah kita menghafal Alquran. Bercita-citalah untuk menjadi penghafal Alquran, jadikan itu cita-cita tertinggi diantara cita-citamu yang lain. Hafallah sedikit demi sedikit asal rutin dan istikamah. Luruskan niatnya, jalani rintangannya. Nothing is impossible, if you don’t try it, you don’t know.

“Sebenarnya, Al-qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ankabut:49)

Penulis adalah mahasiswi Jurusan dan komunikasi dan penyiaran Islam, Semester III,  Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SU.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.