4 Langkah Tepat dalam Membangun Karakter Anak

0
Ilustrasi anak. (Foto/Ilustrasi/Pexels)

Penulis: Adwar Pratama

Sebagai orang tua, dianugerahi buah hati merupakan hal yang paling menakjubkan sekaligus menjadi tanggung jawab tambahan. Di sisi lain, buah hati kita merupakan penerus yang kelak membanggakan nama keluarga. Dalam mewujudkan tujuan tersebut, tak jarang kita terus berusaha dalam memilih pola asuh yang tepat agar dapat membesarkan buah hati kita dengan benar.

Dalam berusaha untuk membentuk karakter sang buah hati, eloknya kita sebagai orang tua tidak hanya memikirkan rentetan pola yang akan diterapkan kepada anak kita. Tetapi kita juga memprioritaskan perkiraan apa yang akan dilakukan oleh anak kita dari pola yang kita terapkan padanya. Berikut 4 langkah tepat dalam membangun karakter anak.

Baca juga: Apa Benar Hanya Kita Kehidupan Satu-Satunya?

1. Jadilah Orang Tua yang Tanggap

Cepat tanggap dalam hal ini adalah bagaimana cara kita mendidik anak supaya perilaku anak tetap stabil dan dapat menenangkan emosi agar tidak mudah meluap. Misalnya, ketika si anak mendapatkan masalah dalam hidupnya. Orang tua yang cepat tanggap akan menghampiri dan merangkul sang anak dengan tujuan agar anaknya bisa lebih tenang. Aksi tanggap orang tua di sini tidak hanya harus cepat tetapi juga harus tepat. Manusia memiliki ego tersendiri dalam kehidupannya, tak terkecuali orang tua yang harus mengetahui masalah dan perkembangan anaknya disaat yang sama saaat dia dihadapkan oleh urusan kantor dan pekerjaan yang mungkin menjadi privasi tersendiri untuknya.

Ketika manusia dihadapkan dengan beban pikiran yang teramat banyak, tak jarang emosi hati mudah sekali meluap. Urusan pekerjaan tidak kunjung berkurang, anak berlari sambil menangis ke rumah. Disaat seperti ini,  salah satu ujian bagi orang tua adalah bagaimana mengontrol emosi. Satu tindakan yang diambil saat emosi sedang menguasai bukanlah tindakan terbaik. Emosi tercipta dan terlahir untuk dilampiaskan. Jika beban pikiran sudah mendatangkan emosi maka tak jarang anak dijadikan pelampiasan. Temperamen sebagai orang tua harus dijaga karena tidak menutup kemungkinan besar temperamen yang dimiliki orang tua bisa saja diwariskan kepada anak. Temperamen seorang anak bisa lebih tinggi daripada orang tuanya jika orang tua tidak bijak memilih tindakan untuk mendidik anak.

Baca juga: Sudahkah Kita Bijak dalam Menggunakan Gadget?

2. Dewasakan Hati

Diibaratkan sebuah kantor perusahaan, orang tua merupakan direktur perusahaan dan anak adalah karyawannya. Maka, dianjurkan untuk orang tua agar memiliki sifat kepemimpinan yang baik dan bijak. Prinsip seorang pemimpin yang benar adalah bagaimana cara si pemimpin dalam meyakinkan anggotanya dan bersama-sama membangun tujuan yang direncanakan hingga membuahkan hasil. Sedangkan prinsip pemimpin yang salah adalah saat si pemimpin memiliki rentetan rencana dan semua rencana tersebut akan dilakukan oleh para anggotanya tanpa ingin ambil pusing bagaimana usaha anggotanya dalam menjalankan rencananya.

Orang tua yang baik adalah orang tua yang berani merendahkan hati dan mengalah agar membangun pengertian sang anak akan tindakannya. Yakinlah bahwa buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, maka jika anak mulai bertingkah buruk yakinlah bahwa dulu sebelum menjadi orang tua, anda pernah melakukan hal yang sama. Jangan malu untuk mengakui kesalahan yang pernah dilakukan kepada anak. Orang tua tidak bisa menjadi superior dengan menyembunyikan kesalahan yang pernah dilakukan sama seperti yang dilakukan anak. Ini akan menyebabkan anak menjadi tidak layak mendapatkan didikan orang tuanya dan merasa bahwa semua yang dilakukannya dalam kehidupan tidak berguna. Dengan kata lain dapat menurunkan mental anak.

Baca juga: Menyoroti Body Shaming; Berbicara yang Baik atau Diam

3. Hargai Usaha Anak

Sebagai orang tua, kita mungkin sudah mempersiapkan sedemikian rupa bagaimana tindakan yang harus dilakukan untuk membangun karakter seorang anak. Tetapi pada dasarnya, setiap perencanaan kita dalam memilih tindakan untuk mendidik anak akan mendorong anak untuk melakukan sebuah usaha. Pada dasarnya orang tua yang mengerti bagaimana perilaku anak yang diinginkan dan bagaimana pula cara mewujudkannya. Anak yang akan dibekali dari pengetahuan orang tua untuk membinanya membutuhkan proses untuk mengerti bagaimana hal baik yang harus diterapkan oleh anak. Dalam proses tersebut tak jarang si anak gagal dalam menerapkan apa yang dibekali orangtuanya.

Di sinilah peran kita untuk menghargai setiap proses yang sudah dilakukan anak untuk kebahagiaan dan kebanggaan kita. Maka, hargailah dengan mengapresiasi keberhasilannya minimal dengan kalimat pujian, dan berikanlah pengertian kepada anak jika mengalami kegagalan. Sebuah tindakan yang salah jika kita menerapkan bekal untuk anak dengan sifat superior dibelakang kita. Sebuah tindakan yang salah jika harus berlaku kasar jika usaha anak untuk membanggakan kita tidak sempurna atau mengecewakan. Dampak tidak dihargainya seorang anak dapat menumbuhkan sifat pemberontak dalam diri anak yang mendoktrin pikirannya dan mengeluarkan paham bahwa apapun yang dikatakan oleh orangtuanya adalah sebuah kesalahan dan tidak ada satupun kebenaran didalamnya.

Baca juga: Jangan Cuek Soal Presma

4. Pentingkan Kewajiban Ketimbang Keinginan

Langkah terakhir merupakan langkah terpenting bahkan menjadi langkah yang mewakili tiga langkah sebelumnya. Kita dikaruniai seorang keturunan karena keinginan yang selalu disampaikan dalam doa untuk menjadi orang tua. Kita menjadi orang tua adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan karena kita sudah memiliki penerus garis keturunan kita dengan beribu harapan padanya. Maka, tanamkan sebuah pola pikir bahwa tidak ada hal lain apapun yang merupakan sebuah kepentingan melainkan mendidik anak agar menjadi manusia yang berguna nantinya. Seorang anak memberikan kesan nyaman kepada orang tuanya karena dia merasa bahwa dia diprioritaskan.

Seorang anak tidak akan pernah berani untuk membelot dari orang tuanya karena dia sadar bahwa orang tuanya sudah sangat baik untuk merawatnya hingga ia dewasa. Tidak ada anak durhaka jika orang tuanya berpikir bijak dan dewasa dalam mendidiknya. Seorang anak akan berguna bagi lingkungan, negara bahkan dunia jika orangtuanya mendidiknya dengan sabar. Tidak mungkin kita salah mendidik anak, jika kita dapat  mengesampingkan amarah dalam setiap didikan tersebut.

Editor : Yaumi Sa’idah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.