Oleh    : Rahmi Irada Lubis*

Pagi selalu menjadi waktu yang paling kutunggu dari sekian banyak waktu yang ada. Entah mengapa aku sangat menyukainya. Terkadang ada banyak alasan yang dapat kuutarakan mengapa aku menyukainya. Tapi, terkadang tidak ada alasan khusus yang dapat menggambarkan tentang pagi yang selalu kurindukan. Pagi adalah waktu yang unik, di mana seseorang bisa saja menjadi sibuk sekali saat pagi tiba atau justru menjadi waktu yang tepat untuk bersantai sebelum memulai aktivitas. Keduanya tentu terjadi padaku. Namun, hal itu tak menjadikanku membenci pagi. Aku justru menikmatinya, walau terkadang keluh-kesah tetap ada. Pagi ini aku ingin sekali membahas tentang pagi; dengan siapa pun. Aku hanya ingin tau apa yang orang lain pikirkan tentang waktu favoritku ini.

“Pagi itu menjadi waktu yang tepat untuk bersyukur. Mensyukuri segala hal yang masih ada dan dapat kita rasakan serta nikmati,” kata Desi, salah seorang teman dekatku. Itu alasan yang indah bagiku. Yah… pagi memang selalu indah. Keindahan pagi menghadirkan rasa syukur yang mengajarkanku untuk lebih memaknai sesuatu. Alasan ini tentu pernah hinggap di benakku. Satu alasan mengapa aku menyukai pagi dan itu juga disadari oleh teman dekatku.

“Menurutku pagi adalah semangat untuk memulai aktivitas. Sebagai awal dari hari, pagi lebih memberi energi untuk menjalani sisa waktu yang menanti kita,” Rina menjelaskan dengan semangat kepadaku. Semangat itu jelas kurasakan darinya. Pagi memang menjadi waktu yang lebih sering memperlihatkan senyum mengembang dari orang-orang. Apa ini hanya terjadi pada orang-orang yang berada di sekitarku saja? Entahlah… yang jelas semangat itu sering menyapaku saat pagi. “Rina benar,” ucapku dalam hati. Satu lagi alasan yang kutemukan mengapa pagi sangat menyenangkan.

“Mmmm… pagi yah? Bagiku pagi itu menggambarkan satu kata, yaitu harapan. Pagi menjadi waktu untuk berharap agar semua berjalan lancar sampai dipenghujung hari,” kata Ridho mencoba menjelaskan makna pagi baginya. “Kata yang tepat,” aku membatin. Tak kusangka Ridho yang bergaya awut-awutan itu memaknai pagi dengan begitu indahnya. Pagi memang istimewa, bagiku dan mungkin untuk sebagian orang lainnya. Sangat menyenangkan mencoba untuk mencari tau bagaimana orang lain memaknai pagi. Aku pun semakin terkesima dengan bagian awal dari hari yang kita sebut dengan “pagi”.

Sekarang pertanyaan itu kuajukan pada diriku sendiri. “Seistimewa apa ‘pagi’ hingga aku menyukainya?”. Mengapa kini pertanyaan itu justru sulit bagiku. Sepertinya arti pagi tak semudah yang kubayangkan. Tapi, yang kuyakini pagi adalah inspirasi. Sesuatu yang menggerakkan hatiku untuk menjadi lebih baik karena pagi memberiku harapan, semangat, dan membuatku bersyukur. “Senang mengenalmu; pagi”.

*Penulis adalah mahasiswi UIN SU, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan jurusan Bimbingan dan Konseling Islam semester VII.

TIDAK ADA KOMENTAR