Ilustrasi : Afifah Lania

Oleh: Fakhrurrazi

Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar,  merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali ‘Imron 3: 104).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Urgensi adalah keharusan yang mendesak. Seorang Muslim terdorong untuk berdakwah dan antusias dalam melakoninya, antara lain karena adanya perintah untuk berdakwah dan besarnya pahala yang dipersiapkan Allah bagi para da’i. Urgensi dakwah sangat diperlukan tatkala manusia modern semakin lupa akan tujuan hidup yang sebenarnya. Mereka hanya menjadikan dunia sebagai orientasi dan tujuan, suatu yang sangat terbatas. Jauh dari yang dipesankan agama, kehidupan di kemudian hari yang kekal abadi. Transformasi yang terjadi di dalam konsep dan praktik dakwah menunjukkan betapa pengkajian ulang terhadap konsep-konsep dasar islam tidak hanya melibatkan elit negara dan intelektual, tetapi juga massa.

Secara etimologi Dakwah berasal dari bahasa Arab yang Da’a—Yad’u menjadi bentuk masdar Da’wah yang berarti seruan, ajakan, atau panggilan. Seruan yang digunakan dalam Dakwah bertujuan untuk mengajak seseorang baik dalam melakukan suatu kegiatan atau dalam merubah pola serta kebiasaan hidup. Dari kata seruan, Dakwah memiliki banyak arti yang bisa digunakan secara luas tidak hanya dalam Agama, di mana kata Dakwah sering digunakan namun seruan yang diberikan bisa dimaknai dalam hal positif maupun negatif.

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa “Mendakwahkan orang agar beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, dengan cara membenarkan kabar yang mereka beritakan dan menaati perintah yang mereka mandatkan. Dakwah tersebut mencakup: (1) berdakwah kepada dua kalimat syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah; (2) mendakwahkan iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari kebangkitan setelah kematian dan iman kepada takdir, baik maupun buruknya; dan (3) berdakwah agar seseorang beribadah kepada Allah seakan-akan ia melihat-Nya (ihsan dalam ibadah)”.

Rasulullah bersabda yang artinya:

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat suatu kemunkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Bila ia tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Dan bila ia tidak mampu juga, maka ubahlah dengan hatinya, karena hal tersebut merupakan manifestasi keimanan yang paling lemah” (HR. Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan an-Nasa’i).

Seorang Muslim mau berdakwah kepada Allah dan bersemangat melakukannya, karena Allah meninggikan derajat para da’i dan menjadikannya sebaik-baik manusia dalam perkataan di sisi penciptanya.

Allah berfirman yang artinya:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang sholih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33).

Dalam menafsirkan ayat ini, Syaikh Jamaluddin al-Qasimi  mengatakan:

“Tidak ada seorang pun yang lebih baik perkataannya daripada orang yang mengajak orang lain agar hanya menyembah Allah. Ia termasuk orang-orang shalih yang menyerahkan seluruh niatnya karena-Nya”.

Dahulu Nabi memotivasi para sahabatnya untuk berdakwah kepada Allah dan mengobarkan semangat mereka untuk itu, serta menjelaskan pahala yang dikandungnya dan akan diangkat derajatnya di sisi Allah  bila mereka menegakkannya. Banyak metode dakwah yang bisa kita lakukan untuk menyeru atau mengajak mad’u (pendengar) kepada jalan kebaikan. Bisa dengan berkhutbah, mengisi pengajian, pidato dan juga mengingatkan akan hal yang dilarang Allah untuk meninggalkannya.

Dari Sahal bin Mas’ud, ia berkata: Rasulullah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib: “Allah memberikan petunjuk kepada seseorang disebabkan engkau lebih baik bagimu dari pada unta merah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hal ini dakwah ditujukan atau diserukan kepada para audiens (mad’u), yaitu seluruh umat manusia tanpa kecuali, yang memiliki beragam tipologi, baik suku bangsa, ras, warna kulit maupun berdasarkan klasifikasi kemanusiaan lainnya.

Allah berfirman

“Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” (QS. Saba’ 34: 28).

Jalalyn menafsirkan QS. Saba’ 34: 28:

(Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan untuk semua) lafal Kaaffatan berkedudukan menjadi Hal atau kata keterangan keadaan dari lafal An Naas yang sesudahnya, didahulukan mengingat kedudukannya yang sangat penting (manusia sebagai pembawa berita gembira) kepada orang-orang yang beriman, bahwa mereka akan masuk surga (dan sebagai pemberi peringatan) kepada orang-orang kafir bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam neraka (tetapi kebanyakan manusia) yakni orang-orang kafir Mekah (tidak mengetahui hal ini).

Seorang muslim mau dan bersemangat berdakwah kepada Allah, karena Allah akan meninggikan derajatnya serta menjadikannya sebaik-baiknya manusia dalam perkataannya disisi Allah swt. Dengan demikian sangat mulia jika kita mau berdakwah di jalan Allah, karena pahala yang kita dapatkan sangatlah besar dan mendapatkan derajat yang tinggi disisi Allah swt. Dakwah juga meneruskan sunnah Rasulullah saw untuk mengubah pola kehidupan manusia agar dekat dengan Sang Pencipta. Rasulullah  juga menerangkan, seandainya orang yang mengikutinya lebih dari satu, maka pahalanya seperti pahala mereka semua tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka tersebut.

Rasulullah  bersabda:

“Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa berkurang sedikitpun dari pahala merekan” (HR. Muslim).

Faktor ini juga yang menjadikan seorang muslim giat dalam berdakwah, itu karena Allah memberikan pahala yang besar bagi orang yang menjadi perantara bagi orang lain dalam mendapatkan petunjuk. Maka adapun urgensi dakwah dalam sehari-hari adalah, sebagai seorang muslim maka sudah sewajibnya kita menyerukan hal-hal yang positif yang sifatnya mengajak kepada jalan kebaikan yang diridhoi Allah, dalam hal ini dakwah bisa dilakukan oleh siapa saja dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

Baik itu dakwah dalam keluarga maupun masyarakat luas. Karena pada hakikatnya manusia ini adalah pelupa maka sudah sepatutnya kita saling mengingatkan dalam kebaikan dengan metode berdakwah. Semua pahala di atas, merupakan faktor-faktor yang mendorong seorang muslim untuk antusias dalam berdakwah dan lebih giat lagi dalam memberi petunjuk kepada orang lain. Dengan begitu semangat dalam menebar dakwah sangat digandrungi dan menjadi hal yang wajib bagi setiap muslim.

Wallahu A’lam Bis shawab.

Editor : Rizki Audina

TIDAK ADA KOMENTAR

Membawa Makna Meraih Cita