Ilustrasi : Ditanty Chica Novri

Oleh: Muhammad Ifroh Hasyim

Di sebuah negeri yang gemah ripah loh jenawi, yang tanahnya lebih subur dibandingkan tanah-tanah lain, yang perut buminya menyimpan emas berton-ton, hiduplah masyarakat yang lapar bahkan harus mati karena kekurangan gizi. Sementara nun jauh di sana, di negeri yang bahkan mengalami kesulitan air, makanan didapatkan dari negara lain, rakyatnya hidup makmur dan negaranya maju. Bahkan mampu mengeruk tanah-tanah yang bukan miliknya.

Manusia adalah makhluk dengan penciptaan paling sempurna, terutama dengan akal sebagai salah satu anugerah yang mampu membuat manusia bertahan dalam kondisi yang di luar batas kemampuan fisiknya, bahkan bisa meloncati batas yang tidak mampu digapai oleh makhluk lain. Manusia tidak mampu secara alamiah untuk terbang, maka keinginannya untuk terbang diwujudkan dengan alat yang mampu membawanya terbang.

Manusia tidak mampu secara alamiah mengarungi lautan dan berada di dalam air untuk kondisi yang lama, maka manusia menciptakan alat yang mampu membawanya mengarungi lautan yang dalam. Manusia tidak mampu hidup di ruang hampa udara, maka manusia menciptakan alat agar bisa beraktifitas dan bereksperimen di luar angkasa.

Maka keterbatasan bukanlah alasan seseorang untuk tidak bisa meraih keinginan-keinginan yang belum terlihat di pelupuk mata. Batasan adalah motivasi bagi orang-orang yang mau terus eksis bertahan di muka bumi sebagai salah satu bukti luar biasanya sang pencipta. Penulis teringat dengan sebuah pepatah melayu yang berbunyi, “Nak, atau tak nak. Kalau nak seribu daye kalau tak nak seribu dalih”. Sebuah isyarat penting dari pendahulu kita bahwa kalau seseorang mau berupaya, maka ia bisa.

Terkadang, ketersediaan yang melimpah justru membuat manusia malas untuk memikirkan terobosan-terobosan baru. Perasaan cukup dan malas menjadi salah satu penyebabnya. Keberlimpahan membuat manusia terlena bahkan tidak tahu kalau di bawah kakinya ada Emas yang tersemayam dan menanti untuk diolah.

Sebuah fakta yang kita ketahui bersama, negara-negara berkembang saat ini adalah negara yang sumber dayanya kaya, berlimpah ruah. Dan sebaliknya, negara maju adalah negara yang tanahnya penuh keterbatasan, bahkan terjal berbatu. Sebuah perbedaan yang cukup untuk menjelaskan bahwa manusia mampu bangkit meski terbatas. Mampu terlelap karena terlalu nyaman.

Lalu pertanyaannya, apakah rakyat di negeri ini masih belum sadar? Jawabannya sudah. Teknologi dan arus informasi yang mengalir tak terbatas ruang dan waktu telah membangunkan kita. Membuat kita sadar namun terlambat. Membuat sebagian orang justru putus asa, memilih pasrah padahal masih punya kesempatan untuk mengejar.

Tak ada kata terlambat bagi penduduk suatu negeri yang ingin merubah nasibnya. Karena tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu yang merubahnya. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah dan rakyat. Keduanya harus saling dukung. Tidak cukup hanya memikirkan perut sendiri. Atau hanya ingin makan untuk kenyang “sesaat”. Sebab peran pemerintah hari ini menentukan nasib suatu bangsa di masa depan. Sudah saatnya kita bangkit dari tidur panjang yang begitu melelahkan.

Editor : Rizki Audina

TIDAK ADA KOMENTAR

Membawa Makna Meraih Cita