IMG_20160612_223559Sore itu jalan Tembung dipenuhi dengan berbagai kendaraan, baik sepeda motor, mobil angkutan, mobil pribadi hingga becak. Orang-orang baru saja pulang dari kantor. Terlihat sekumpulan lelaki paruh baya tengah asik berbincang di gubuk kecil pinggir jalan. Dua di antara mereka sedang sibuk menunjuk-nunjuk jualan milik bapak yang berambut putih itu. Saat Ramadhan seperti ini, jualan milik bapak yang bermarga Siregar ini memang banyak dicari orang-orang, khususnya bagi mereka yang berdarah Mandailing. Makanan dari sejenis rotan yang dibakar terlebih dahulu ini lebih akrab dikenal dengan sebutan pakat. Makanan yang tengah jadi incaran di bulan Ramadhan ini kini sudah banyak dijumpai, misalnya saja di daerah Tembung. Biasanya kita hanya bisa mendapati pakat ini di daerah Denai dan Letda Sujono kini tidak perlu lagi jauh-jauh untuk mencarinya.

Bulan Ramadhan seperti ini penjual pakat melonjak naik. Tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam, cukup dengan Rp. 2.000 s/d Rp. 2.500,- per pakatnya kita sudah bisa membelinya untuk santapan berbuka puasa. “Biasanya kami stok 100 pakat pada hari biasa. Kadang-kadang juga nggak habis. Tapi Ramadhan ini 200-250 pakat kami stok dan habis. Hanya 2.000 aja per pakatnya,” ujar anak lelaki bemarga Siregar itu.

Para pencinta pakat rela mengantre dengan alasan bahwa pakat adalah jajanan penambah nafsu makan. Seperti yang dijabarkan oleh Zizah Lubis kalau pakat adalah makanan penambah nafsu makan.  “Pakat ini penambah nafsu makan. Apalagi Ramadhan gini, enaknya pakai pakat,” katanya.

Di tanah Mandailing, seperti Rantau Parapat, Sibuhuan, dan Sosa, pakat disajikan dengan ikan mas bakar. “Kalau di kampung, pakat ini disandingkan sama ikan mas bakar dan dicampur sama kuah yang ada kikisan batang balakka. Mirip dengan sop ikan, tapi dia nggak pakai daun sop. Holat namanya,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ruslan Harahap, ayah dari tiga anak yang rela mengantre untuk mendapatkan pakat. Dia mengatakan bahwa pakat memang benar penambah nafsu makan, meski ada rasa pahit. Tapi menurutnya disitulah leatak kekhasan makanan tersebut. “Saya rindu kampung halaman kalau makan pakat. Pahitnya itu yang buat nafsu makan meningkat. Apalagi kalau disajikan pakai cabai, tomat, bawang diiris, dan ditambah kecap asin. Inda tarligin ho supingi Nggik, (Nggak terlihat kau telinga kau) tutupnya dengan gelak tawa.

Penulis           : Ika Rahmadani Lubis

Editor             : Nurul Farhana Marpaung

TIDAK ADA KOMENTAR