Ilustrasi : Ditanty Chica Novri

Penulis : Arifin

Mengahafal sudah tak asing lagi untuk didengar, mungkin banyak sebagian orang merasa bahwa mangahafal itu adalah suatu hal yang sulit. Mengahafal adalah suatu kenikmatan yang begitu luar biasa, baik itu menghafal pelajaran maupun Al-quran. Mengahafallah kamu meskipun sering tidak hafal-hafal karena itu adalah suatu ibadah. Apalagi dalam menghafal Al-Qur’an, karena setiap hurufnya dihitung sebagai ibadah.

Niat adalah hal yang penting dalam menghafal karena kalau tidak disertai dengan niat sama saja tidak ada artinya. Niat adalah hal yang paling utama dalam melakukan segala sesuatu.”Innamal a’amalu bin niyyat fainnama likullimriin maanawa”. Tetap “istiqamah” dalam menghafal meskipun tidak hafal-hafal, barang kali lewat pintu ini, Allah ingin memberikan banyak karunia-Nya.

Keistiqamahan dalam menghafal juga adalah hal yang penting meskipun tidak hafal-hafal, terutama dalam mengahafal Al-Quran. Dalam mengahafal Al-Quran Allah Ingin memberikan banyak karunia-Nya. Satu huruf Al-Qur’an satu kebaikan, dan satu kebaikan terdapat 10 pahala. Bagi yang kesulitan melafazkannya, satu hurufnya dua kebaikan. Berarti setiap hurufnya 20 pahala. Jika semakin sulit dalam menghafal maka semakin banyak pula pahala yang kita dapatkan.

Al-Qur’an seluruhnya adalah kebaikan. Menghafal tidak hafal-hafal berarti kamu berlama-lama dalam kebaikan. Semakin lama semakin baik. Bukankah kamu menghafal untuk mencari kebaikan?. Ketika kamu menghafal Al-Qur’an, berarti kamu sudah punya niat yang begitu kuat. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam menyebut 70 syuhada’ dalam tragedi sumur Ma’unah sebagai qari (hafizh), padahal hafalan mereka belum semua. Ini karena seandainya mereka masih hidup, mereka akan terus menghafal. Jadi, meski kamu menghafal tidak hafal-hafal maka kamu adalah seorang hafizh selama tak berhenti dalam menghafal.

Menghafal Al-Qur’an ibarat masuk kesebuah taman yang indah. Mestinya kamu betah, bukan ingin buru-buru keluar atau ingin bermain-main. Menghafal tidak hafal-hafal adalah cara Allah memuaskan Anda menikmati taman itu. Ketika kamu menghafal Al-Quran meski tidak  hafal-hafal, maka dapat dipastikan paling tidak, selama menghafal mata, telinga, dan lisan Anda tidak sedang melakukan maksiat. Semakin lama durasinya maka semakin baik. Memegang mushaf adalah kemuliaan dan melihatnya adalah kesejukan. Maka Anda sudah mendapatkan hal itu saat menghafal walaupun tidak hafal-hafal.

Adakalanya kita banyak dosa. Baik yang di sengaja maupun tidak di sengaja. Dan menghafal tidak hafal-hafal  adalah kifaratnya, di mana barangkali tidak ada kifarat yang lain kecuali itu.  Tidak hafal-hafal  adakalanya karena Allah sangat cinta kepada kita. Allah tidak memberikan ayat-ayat-Nya sampai kita benar-benar layak dicintai-Nya. Jika kita tidak senang dengan keadaan seperti ini, maka kepada siapa sebenarnya selama ini kita mencintai. Maka hal inilah yang disebut “Dikangenin ayat”. Dan Allah akan memberikan ayat-ayatnya kepada kita kalau kita bener-benar dalam menghafalnya dan mencintainya serta menjauhkan maksiat.

Menghafal tidak hafal-hafal, tentu menjadi hal yang melelahkan dan membosankan. Inilah lelah yang memuaskan, karena setiap lelahnya dicatat sebagai amal sholeh. Jika belum hafal juga, maka teruslah hafalkan, barangkali  Anda sedang berada dipintu hidayah. Tandanya jauh dari nafsu dekat dengan ikhlas. Dan ikhlas lahirkan mujahadah yang hebat. Namun, untuk mencapai tingkat ini tentu tidaklah mudah.

Editor : Ridha Amalia     

2 KOMENTAR

Comments are closed.