Foto : Google
Foto : Google

Sebagai manusia yang tinggal di bumi, kita tidak mungkin bisa terlepas dari lingkungan hidup tempat kita tinggal. Lingkungan yang baik datang dari orang-orang yang baik pula. Beberapa tahun belakangan ini, kita sering mendengar tentang bencana alam yang menimpa dunia khususnya di Indonesia. Taukah kita bahwa semua itu datang dari diri kita sendiri ?. Tapi tidak banyak orang yang sadar bahwa menjaga dan melestarikan lingkungan adalah mutlak tanggung jawab bersama. Tidak pandang bulu baik Tukang Kebersihan maupun Pejabat tinggi tetap memiliki kewajiban yang sama terhadap lingkungannya.

Di Indonesia terdapat definisi mengenai lingkungan hidup yang tercatat dalam Undang-undang No. 23 tahun 1997. Inti dari undang-undang tersebut secara singkat, lingkungan hidup diartikan sebagai semua hal, baik benda mati dan semua makhluk hidup seperti manusia dan perilaku mereka yang dapat berpengaruh terhadap  lingkungan sekitar mereka.

Sekilas tentang Hari Bumi, peringatan ini awalnya dirayakan setiap tanggal 20 Maret. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri hingga saat ini merayakan Hari Bumi Internasional setiap tanggal 20 Maret. Hal tersebut merujuk pada sebuah tradisi yang dicanangkan aktivis perdamaian John Mc Connell pada tahun 1969. Yaitu, hari di mana matahari tepat di atas khatulistiwa atau yang sering disebut Ekuinoks Maret. Setahun setelahnya, yaitu pada 1970, salah seorang Senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson kembali mencanangkan Hari Bumi pada 22 April. Nelson yang juga merupakan pengajar lingkungan hidup awalnya prihatin melihat ulah manusia yang semakin tidak peduli dengan alam. Karena itu, dia berusaha untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu lingkungan. Caranya, dengan mengajak masyarakat agar menyempatkan diri dalam satu hari khusus untuk kegiatan pelestarian lingkungan.

Masalah pencemaran merupakan suatu masalah yang sangat populer dan sangat perlu mendapat penanganan secara serius oleh semua pihak untuk dapat menanggulangi akibat buruk yang terjadi karena pencemaran lingkungan ini.

Apakah anda tahu bahwa kota-kota besar yang ada di Indonesia, kebanyakan adalah kota industri? di mana banyak sekali pabrik-pabrik dibangun, padatnya penduduk dengan asap kendaraan bermotor, dan asap-asap hasil pembuangan tersebut terdiri atas karbon monoksida, karbon dioksida, dan belerang dioksida. Karbon dioksida mengakibatkan hawa pengap dan naiknya suhu permukaan bumi. Karbon monoksida dapat meracuni dan mematikan makhluk hidup sedangkan belerang dioksida menyebabkan udara bersifat korosif yang menimbulkan proses perkaratan pada logam. Tentunya hal-hal ini membuat udara di sekitar tercemar.

Harusnya kita sebagai warga negara Indonesia khususnya yang tinggal kota mulai belajar untuk mengurangi polusi udara, dengan mengurangi aktivitas yang menyebabkan asap atau pencemaran udara seperti tidak lagi membakar sampah pada siang hari, menerapkan program penghijauan, gas-gas buangan pabrik perlu dibersihkan dahulu sebelum dikeluarkan ke udara bebas dan memilih lokasi pabrik dan industri yang jauh dari keramaian serta di tanah yang kurang produktif. Karena jika polusi udara tetap terus terjadi maka hal ini bisa menyebabkan dampak lokal seperti sesak napas dan global warming karena lapisan ozon di bumi yang rusak.

Pencemaran air juga merupakan masalah yang sering terjadi di Indonesia bahkan mungkin di dunia. Manusia di bumi yang membuat air tercemar seperti halnya limbah pabrik maupun limbah rumah sakit yang dibuang sembarangan di sungai atau laut. Penduduk yang tinggal di pinggir sungai juga kurang menjaga kelestarian air, dengan membuang air dan mencuci serta mengalirkan air sabun cucian mereka di sungai, membuang sampah sembarangan baik di laut maupun sungai, dan sebagainya. Pada akhirnya air tercemar dan akan merugikan manusia itu sendiri bahkan juga makhluk hidup yang lain. Banyak sekali kasus anak-anak yang terkena penyakit diare akibat meminum air yang sudah tercemar. Selain itu, hewan-hewan di dalam laut dan sungai pun ikut mati dan punah. Sebaiknya kita tidak lagi membuang sampah apapun ke sungai.

Tanah tempat kita berpijak pun sudah mulai mengalami pencemaran, penimbunan sampah plastik dan pembuangan limbah beracun seperti sisa buangan air sabun cucian yang terserap ke dalam tanah merupakan hal yang sering terjadi di lingkungan penduduk. Jika hal ini dibiarkan terus terjadi maka kematian atau penyakit akan menimpa manusia di bumi. Penggunaan traktor dalam membajak sawah sebagai alat bantu memang mempermudah dan mempercepat dalam membajak sawah. Namun, kadang ada hal lain yang tersisa seperti, sisa bahan bakar, buangan oli, dan sebagainya. Sebaiknya sebelum dibuang ke tanah senyawa sintetis seperti plastik sebaiknya diuraikan lebih dahulu, misalnya dengan dibakar, penggunaan pupuk anorganik secara tidak berlebihan pada tanaman dan untuk bahan-bahan yang dapat didaur ulang, hendaknya diproses untuk didaur ulang, seperti kaca, plastik, kaleng, dan sebagainya.

Ketidaknyamanan juga terjadi akibat pencemaran lain yaitu suara, pencemaran suara dapat terjadi di lingkungan-lingkungan padat penduduk atau lingkungan industri. Di pusat-pusat hiburan dapat pula terjadi pencemaran suara yang bersumber dari tape recorder yang diputar dengan keras. Adanya pencemaran suara dapat mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit dan gangguan pada manusia dan hewan ternak, seperti gangguan jantung, pernafasan dan gangguan saraf.

Sebenarnya, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan apabila kita memang menyadari ingin menjaganya, seperti melakukan penebangan hutan secara selektif, melakukan reboisasi, mencegah terjadinya kebakaran hutan, pangadaan taman nasional, dan lain-lain. Untuk para petani juga harus bijaksana dalam menggunakan pestisida dan pupuk sesuai dosis yang dianjurkan. Pabrik-pabrik yang ada di dunia khususnya Indonesia juga bisa mengolah limbah sebelum dibuang ke sungai atau ke saluran air yang lain. Tidak membuang sampah sembarangan serta melakukan proses daur ulang untuk sampah yang bisa dimanfaatkan.

Sebagai contoh sederhana, mulailah dari diri kita sendiri dan lingkungan keluarga, Gunakan kendaraan bermotor seperlunya saja, agar tingkat pencemaran dari karbondioksida yang dihasilkan dari pembakaran mesin kendaraan tersebut tidak terlalu banyak menyebar ke udara perharinya, buanglah sampah pada tempatnya, pisahkan sampah yang berjenis organik dan non organik, dengan membiasakan berperilaku seperti ini setiap hari, maka akan berdampak positif sebagai antisipasi pencegahan banjir.

Jangan membakar sampah ketika siang hari, hal itu bisa menimbulkan banyak kerugian, seperti akan mengakibatkan pencemaran udara, dari pembakaran sampah akan meracuni setiap orang disekitarnya, bahkan bisa menimbulkan kebakaran pula. Berdayakan bahan-bahan bekas yang sekiranya hanya menjadi tumpukan sampah yang kurang berguna bertumpuk di gudang rumah, ya misalnya dengan membuat sebuah kerajinan tangan dari bahan-bahan tersebut, untuk cara dan bagaimana kita membuat hal yang kreatif seperti itu, bisa cari di internet dan kita bisa bergabung ke dalam komunitas-komunitas pencinta lingkungan sebagai bentuk kecintaan lingkungan dan mengajak orang lain peduli lingkungan.

Yang muda yang memulainya, Yang peduli yang merasakannya keep our earth

Penulis : Nurafni Sitepu

 

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR