Foto: www.google.com

Penulis: Aulia Ulfa Saragih

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang”. (QS. Al-Hujurat:12).

Allah Swt melarang kita untuk berburuk sangka kepada siapapun, terutama berburuk sangka atas ketetapan Allah, buruk sangka kepada  teman, sahabat, maupun keluarga.

Allah menguji manusia bukan karena Allah membenci kita. Namun, karena Allah sayang terhadap kita. Bisa jadi Allah memberikan ujian kepada kita sebagai penggugur dosa-dosa kecil kita. Kita sebagai hamba harus berbaik sangka terhadap ketetapan Allah swt dan selalu bersyukur untuk semua nikmat-Nya. Nikmat tidak hanya berupa kesehatan, kekayaan, tawa, sedih, dan bahagia. Tapi ujian juga termasuk nikmat dari Allah swt.

Ara, gadis sulung dari empat bersaudara. Ketika masih duduk di bangku SMA, Ara sudah ditinggal oleh ayahnya untuk selamanya. Ketika pertama kali mendengar ayah meninggal, Ara tak menerima bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Ara merasa bahwa Allah tidak adil, kenapa ayahnya begitu cepat diambil? Ara dan adik-adik serta ibunya masih memerlukan seorang laki-laki tangguh seperti ayahnya. Ara juga belum sempat membahagiakan ayah. Kenapa Allah begitu cepat mengambil ayah.

Tepat satu bulan ayahnya meninggal, ara masih belum menerima kenyataan yang ada. Ara hanya berfikir bahwa ayahnya hanya pergi untuk bekerja, bukan pergi untuk selamnya. Namun, suatu hari ketika  Ara mengikuti kajian di sekolah. Kajian yang bertemakan “Qadar Allah” dalam kajian seorang ustazah menyampaikan bahwa kelahiran, kematian itu termasuk Qadar Allah, atau ketetapan Allah. Allah sudah menetapkan ajal kita bahkan ketika kita masih di kandungan. Di saat kita di uji dengan kehilangan orang tersayang, bukan berarti Allah tidak sayang kepada kita. Namun malah sebaliknya, Allah sangat menyayangi kita dan orang yang kita sayang. Sebelum kita buruk sangka kepada Allah, kita harus dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian dan mempelajari setiap kejadian.

Saat itu, ucapan ustazah sangat menampar hati Ara, ternyata Allah sangat menyayangi Ara dan Ayah, fikirnya di kala itu. Tiba-tiba Ara teringat akan baginda Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam, yang ketika masih di dalam kandungan Allah sudah mengambil ayahnya Abdullah. Dan ketika dia berusia 4 tahun, Allah juga mengambil ibunya yang bernama Siti Aminah. Namun, Nabi Muhammad Saw, tidak berkata bahwa Allah itu tidak adil. Namun, malah sebaliknya. Nabi Muhammad menerima setiap ketetapan Allah. Bahkan, membuat Nabi Muhammad yang kala itu menjadi lelaki yang kuat.

Saat itu juga Ara sangat menyesal karena sudah berkata bahwa Allah itu tidak adil. Ara sadar bahwa apa yang telah dilakukannya adalah kesalahan. Ara memohon ampun kepada Allah atas setiap buruk sangkanya terhadap ketetapan Allah. Setelah selesai salat, Ara tak pernah lupa untuk mendoakan ayah yang sudah bersama Allah, semoga Allah tempatkan ayahnya di tempat yang terbaik di sisi Allah.

Sejak saat itu, Ara selalu berusaha untuk bersyukur atas semua kejadian yang dialaminya. Ara selalu mencoba mempelajari setiap kejadian dan hikmah yang di dapat. Dan ternyata semua benar adanya bahwa Baik sangka itu Baik. Tidak hanya kepada Allah, tapi juga harus baik sangka terhadap teman, sahabat dan keluarga kita. Kita tidak boleh langsung menghakimi atau menuduh yang tidak baik. Apalagi jika kita tidak tahu apa permasalahannya, kita tidak boleh langsung menuduh atau berburuk sangka.

Setiap kejadian yang Allah takdirkan, selalu ada hikmah yang luar biasa. Ara baru menyadari, setelah ayahnya meninggal, itu membuat Ara berfikir, harus tumbuh menjadi wanita yang kuat dan mandiri. Ara tidak boleh terpuruk dengan keadaan, tapi harus sebaliknya, Ara harus berani bangkit, dan menjadi orang yang selalu bersyukur atas qadar Allah.

Editor             : Shofiatul Husna Lubis

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan