Foto: www.google.com

Penulis: Nurul Farhana Marpaung

Lagi-lagi bibirnya tampak melengkung tersenyum bahagia dihadapan laptop kesayangan, laptop pemberian ibundanya ketika mendapat juara kelas pada waktu SMA sekitar 4 tahun yang lalu. Aku yang telah lama mengenal sosok Fika (aku memanggilnya), tak heran dengan tingkah dan sikapnya yang seperti itu. Sosok yang periang dan suka asik sendiri dihadapan alat elektroniknya, sebut saja handphone dan laptop miliknya.

Ku biarkan dia dengan dunianya, dan aku asyik dengan tugas akhirku saat itu. Sesekali ku sodorkan sebungkus roti sebagai stok pengganjal perut di malam hari dan segelas air putih pelepas dahaga. Namun tak dihiraukan, agaknya dia terlalu fokus dengan dunianya serasa kami berdua berada di dunia berbeda saat itu. Ku tutup tugasku, ku rapikan buku-buku yang berserakan kemudian ku bentang kasur.

“Ka, udah jam 12 tidur yok. Besokkan mau pergi cepat,” sapaku sambil menarik selimut.

“Duluan, belum ngantuk!” Katanya singkat.

Ku stel alarm handphoneku dan ku matikan data selulernya, kemudian ku kunci pintu dengan rapat. Ku tinggalkan dia yang tengah asyik sendirian sambil senyum-senyum bahagia. Dengan perasaan yang sedikit gondok melihat tingkah lakunya dia yang tak menghiraukanku sedari tadi, walaupun mataku belum mau terpejam saat itu namun tetap saja kupaksakan.

“Macam gak dianggap akunya,” batinku.

****

Pagi sekali dia sudah siap-siap dengan style cantiknya, geraknya cepat mengalahkan dering alarmku. Biasanya, ocehan alarm berulang kali pun tak dihiraukan, tapi pagi ini dia berbeda dari biasanya. Aku yang baru terbangun masih berasa tidur dan berada di alam mimpi, geraknya yang aneh dan sesekali memukul pundakku dan sesekali disemprotkannya minyak wangi ke bajuku.

“Bangun, sholat!” Cetusnya.

“Ada apa gerangan, Ka?” Tanyaku heran.

“Kunci rumah mana, aku mau buka pintu!” tanyanya lagi sambil menyandang tas yang biasa ia pakai. Ia tak peduli dengan pertanyaan yang baru ku lontar.

“Di atas lemari,” jawabku datar.

Diulurkannya tangan pertanda pamit denganku dan tanpa basa-basi dia pergi begitu saja. Padahal aku tahu, hari ini dia tidak ada mata kuliah dan bahkan hari ini kami ada pertemuan dengan alumni SMA kami yang sudah sukses dan sudah ternama, tak lain dan tak bukan untuk silaturahim dan mencari relasi. Akan tetapi aku masih berpikir keras dia mau ke mana dan kenapa tega-teganya dia meninggalkanku tanpa memberi kabar terlebih dahulu.

Sudah pukul 10.00 WIB, pertemuan bersama senior SMA ku itu pukul 11.00 WIB. Ada waktu satu jam lagi, dan aku pun bersiap-siap sambil mencoba menghubungi Fika via whatsapp hanya untuk memberi kabar dan mengingatkan serta bertanya di mana keberadaannya. Aku berharap dia tidak lupa dengan pertemuan ini. Namun tak ada balasan, bahkan di read pun tidak.

“Apa-apaan ini? Mana sih Fika? Gak ingat atau gimana, padahal dia kemarin yang menggebu-gebu,” gumamku dalam hati dengan raut wajah kesal.

Tampaknya Fika terlalu sibuk dengan dunianya kali ini. Entah bisnis apa yang baru saja ia geluti seakan tidak peduli dengan orang lain dan tak mau tahu dengan orang lain. Semacam ada kesambet atau terkena sesuatu yang hanya satu malam saja ketika membuka laptopnya dia berubah sederastis ini. Berbagai pertanyaan timbul dibenakku. Serta rasa cemas dan khawatir juga, takut terjadi sesuatu dengan sahabat dekatku itu.

Padahal aku mengenalnya sejak lama, ketika kami dipertemukan dibangku SMP. Apa-apa dia selalu cerita, mulai dari masalah sekecil apapun hingga masalahnya yang paling besar. Aku mengenal sosok dia selama kurang lebih sembilan tahun.

“Aku dari bandara menjemput abang sepupuku, kau pigi duluan aja Yan, aku nyusul. Ini alamat abang itu Jl. Pattimura, Gg. Tomat No. 123.”

Demikian bunyi pesan singkat Fika kepadaku dengan diiringi huruf “P” yang beruntun sampai sembilan pesan. Kemudian ku balas dengan sedikit cuek. “Yaa..OK!” begitu bunyi balasan chatting ku.

Dengan perasaan kesal, ku telusuri alamat yang diberi Fika dengan menggunakan jasa kendaraan berbasis online yang sekarang banyak digandrungi para mahasiswa di kampusku

“Sudah sampai, Mbak! Di sini kan?” tanya abang driver.

            “Iya, Mas!” jawabku pura-pura tahu sambil membuka dompet dan mengulurkan ongkos atau jasa drivernya.

Ternyata di sini perumahan elit. Aku sedikit segan dan takut salah alamat. Perlahan ku buka pagar rumahnya dan masuk ke pekarangan rumah milik alumni atau senior ku di SMA. Dari luar tampak sepi tanpa penghuni karena tidak terdengar ocehan. Tapi begitu ku melangkah ke depan menuju pintu rumah, terdapat sederet sepeda motor dan dua buah mobil memenuhi garasi dan halaman rumah itu.

Assala’mualaikum,” ku beri salam sambil mengetuk pintu rumah.

Waala’ikumussalam,” jawab seorang perempuan berasal dari dalam rumah sambil membuka pintu.

Aku kaget, begitu pintu terbuka ternyata sosok yang tak asing keluar dengan wajahnya yang tersenyum lebar. Kemudian sederetan laki-laki berada di belakangnya menyambutku dengan begitu gembira.

“Kalian sudah di sini? Fika, Ridho, Andi, Faiz, Ahad???” Tanyaku tak habis pikir.

“Selamat datang,” sambut mereka dengan wajah sumbringah.

Aku pun perlahan masuk ke dalam, dan anehnya lagi aku dikejutkan dengan sosok laki-laki yang selama ini ku cari keberadaannya dan selalu ku tunggu kedatangannya, tak lain dan tak bukan adalah sosok Pak Zakariya dia adalah dosen pembimbingku yang gara-gara itu aku hampir putus asa dan tidak bisa wisuda bareng Fika kala itu. Fika dapat menyelesaikan S-1 nya selama 3,5 bulan sedangkan aku terhambat dengan tanda tangan Pak Zakariya yang katanya lagi studi selama satu tahun di Eropa. Terpaksa S-1 ku penuh selama 4 tahun. Padahal teman-teman ku sudah mendahuluiku wisuda.

Saat itu aku tak dapat berkata apa-apa, tangis bahagia tak sengaja menetes dari bibir mataku membasahi pipi. Fika yang sedari tadi tersenyum langsung memelukku.

“Surprise,” Katanya sambil mengusap air mataku yang menetes.

Aku tak menduga bahwa Fika sudah merencanakan hal ini matang-matang tadi malam, sehingga dia berperilaku aneh. Pak Zakariya rupanya paman Faiz dan berteman dengan alumni SMA Fika dan Yanti. Fika sudah tahu seminggu yang lalu bahwa Pak Zakariya akan kembali ke Indonesia. Makanya malam harinya Fika menchatting Pak Zakariya via email dan senyum-senyum sendiri karena membayangkan rencana yang hendak ia buat.

“Mana skripsinya?” pinta Pak Zakariya kepadaku.

“Ini, Pak!” Dengan sigap Fika menyodorkannya sambil tersenyum dan tertawa.

Diam-diam Fika mengambil skripsiku dan membawanya ke rumah alumni SMA nya itu. Langsung saja Pak Zakariya menandatangani skripsiku itu. Dengan hanya sebuah tanda tangan perasaanku lega tak karuan, seakan baru keluar dari dalam goa yang terjebak selama satu tahun lamanya dan sekarang sudah dapat menghirup udara segar.

“Ini ada studi selama 3 bulan ke Singapura, kamu dibiayai di sana dan kamu boleh mengambilnya. Jatah saya cuma-cuma untuk kamu,” tambah Pak Zakariya sambil menyodorkan selembar kertas dan ditandatanganinya.

Ini surprise apalagi pikirku. Rasanya luar biasa, seperti dikasi sebuah rumah untuk tempat tinggal kemudian difasilitasi lagi. Ini sungguh nikmat yang luar biasa.

“Sabar itu pahit, tapi buahnya manis,” gumamku sambil tersenyum lepas.

Editor             : Shofiatul Husna Lubis

TIDAK ADA KOMENTAR