Foto: www.google.com

Penulis:  Siti Fadilah

Drrtt..Drrtt..Drrtt….

Handphoneku bergetar di atas meja. Aku yang sedari tadi membaca novel berpaling. Ku letakkan novel yang ku baca ke atas tempat tidur. Ku ambil hp yang tergelatak di atas meja. Ada notif sms.

“Nang, Ummi nggak jadi pulang hari ini. Bibi Inong masih sakit.”

Oke, baiklah. Sudah sewajarnya aku berbagi perhatian dan kasih sayang ummi pada bibi Inong, kakak ummi. Suami bibi Inong sudah meninggal sejak setahun lalu sakit stroke. Bibi juga tidak mempunyai anak. Anak nenek cuma bibi dan ummi. Karena kami tinggal diperantauan, kerabat jarang berkunjung. Seakan belum cukup musibah yang menimpanya, sudah sebulan ini bibi sakit. Lebih tepatnya sudah lama, sih. Aku masih ingat betul. Saat itu bibi datang berkunjung ke rumah dengan segoni durian. Aku berteriak kegirangan. Bibi punya kebun durian di belakang rumahnya. Jika sedang musim dan pohon durian bibi berbuah, aku langsung menelepon dan merengek minta dibawakan. Dan seperti biasa bibi tertawa mendengar rengekanku.

Tapi ada yang aneh. Setiba bibi di rumah, saat aku berlari menyambut kedatangannya, ada yang berbeda dengan penampilannya. Lebih tepatnya fisiknya. Wajah bibi terlihat pucat. Ada dua cekung hitam di bawah kedua matanya, tatapannya yang sayu juga senyumnya yang tak berseri-seri seperti biasa. Aku dan ummi terpaku. Ada apa?

“Ngga apa-apa lo, dek”. Bibi berkilah saat Ummi bertanya akan kesehatannya. Tangannya sibuk membelah durian dengan parang. Setelah belahan yang ia buat di ujung durian cukup lebar, kedua tangannya mulai menarik belahan buah durian ke arah yang berlawanan. Terpampanglah butir-butir buahnya yang menguning. Harum buah pun semakin merebak. Aku yang tadinya serius menyimak percakapan Ummi dan bibi mulai teralihkan. Aku langsung duduk di depan buah durian yang telah dibelah dan langsung mencomot satu. “Ummm… ayolah. Buah durian emang paling top deh,” ucapku, ummi terdiam, melupakan pertanyaannya dan ikut duduk di sampingku sambil mencomot satu butir dan melahapnya. Senyum mulai terukir di bibirnya.

Sore ini, bibi membantu aku menyapu halaman. Tadi pagi ummi menelepon tukang babat rumput. Rumput di halaman sudah mulai meninggi. Hujan yang selalu turun setiap malam membuat rumput semakin tumbuh subur.

Aku dan Bibi duduk menggelosor di teras rumah. Halaman telah selesai di sapu. Sampah juga telah dibakar. Halaman tampak rapi, pot-pot berisi berbagai macam bunga yang tersusun rapi di teras mempercantik halaman.  Aku menengadah, awan mulai berwarna jingga. Ku lihat segerombol burung terbang kembali ke sarang mereka. Bu Sila, tetangga depanku rumah menggiring bebek-bebek peliharaannya kembali ke kandang. Pak Tarno, suami bu Sila sedang memarkirkan motornya. Mungkin baru pulang kerja, mungkin juga bepergian untuk hal lain.

Bibi bersenandung. Aku memperhatikan bibi, tulang pipinya terlihat menonjol, tapi masih tetap cantik di usianya yang sudah setengah abad. “Bibi benar-benar sehat?” Ku pegang tangannya yang mulai terlihat keriput. Bibi mengangguk. Lima detik yang lalu bibi mengangguk, Bibi terbatuk. Aku berlari ke dalam rumah mengambil segelas air minum hangat. Lantas kembali berlari, seketika itu aku terdiam. Ada darah di tangan bibi. Bibi menghapus darah di tangannya ke celana hitam yang beliau kenakan. Bibi menarik tanganku untuk duduk.

“Jangan kasih tahu ummi ya Nang?” bibi menggenggam tanganku dengan memohon. Aku menggeleng. “Kenapa? Kenapa bibi mesti berbohong kalau bibi lagi sakit?” bibi menghela napas. “Itu cuma batuk biasa, tenggorokan bibi meradang,” jawabnya.

Kali ini aku bukan anak yang patuh atas perintah orang tua. Malamnya setelah bibi tertidur di kamar tamu, aku melaporkannya ke ummi. Ke esokan paginya ummi memaksa bibi pergi ke rumah sakit umum di kota. Hasil pemeriksaan kesehatannya mengejutkan. Setiba di rumah, ummi terduduk lemas di lantai. Ada sakit yang mengganjal di hatinya, ada sedih menggelayut di wajahnya.

“Bibi sakit apa, Mi?” ummi tak menjawab. “Bibi Inong mana, Mi? Kok nggak ikut pulang sama Ummi?” Tangisan pecah. Tangan ummi bergetar saat menyodorkan kertas yang digenggamnya. Aku mengambil dan membaca tulisannya. Kanker darah. Aku memeluk ummi erat.

Drrtt..Drrtt..

Hp di tanganku bergetar kembali, menyadarkan aku dari lamunan. ummi menelepon.

“Nang..” Kalimatnya terputus.

“Ya, ummi?”

Aku mendengar helaan nafas beratnya, “Bibi Inong udah meninggal..” Aku terpaku. Tak ku dengarkan lagi kalimat-kalimat setelahnya, yang terngiang di telingaku hanya bibi Inong udah meninggal.

Proses pemakaman berlangsung cepat. Abi yang sedang bekerja di pulau sebrang pun pulang. Ummi menangis, sempat pingsan sekali saat bibi akan dikafani. Tapi sekarang Ummi sudah mulai membaik, sesenggukannya aja yang masih muncul sekali-sekali. Ku pandangi foto terakhirku dengan bibi. Aku dan Ummi duduk di samping kanan bibi. Kami tersenyum, dan berdoa semoga Allah berikan keajaiban untuk kesembuhannya. Tapi ternyata Allah berkehendak lain, Allah lebih menyayangi bibi.

Bibi juga menitipkan rekaman video untukku. Sudah ku putar berkali-kali dan menangis tertahan setiap melihat senyum lemahnya di akhir video. Satu pesannya. “Jaga ummi dan abimu ya Nang, semoga kalian sehat selalu.”

Aku menunduk lantas menengadah kembali. Aku mencium parfum bibi. Saat mataku melirik ke sana kemari, aku seperti melihat bibi berdiri di balik pintu kamar tamu dengan baju dan jilbab serba putih. bibi tersenyum, tangan kanannya melambai. Aku tersedak, kedua mataku mulai memburam dengan air mata yang menumpuk, lalu berlomba keluar. Setitik jatuh. Aku membalas senyum dan lambainnya. Ya, bibi sudah bahagia di sana..

Editor             : Shofiatul Husna Lubis

TIDAK ADA KOMENTAR