Foto: www.google.com

Penulis: Rina Wahyuni

Ingin sekali rasanya aku mencekik anak-anak dihadapanku ini. Amit-amit jabang bayi, baru kali ini seumur hidup aku memasuki kelas yang dihuni oleh para tukang teror yang bikin darah memuncak sampai ubun-ubun. Aku hampir putus asa, “Model komunikasi seperti apakah yang dapat menaklukan mereka? Apakah setiap guru baru yang masuk akan dibuat pusing seperti ini?” batinku menggerutu.

Bagaimana mungkin aku tidak pusing dan naik darah melihat tingkah mereka, saat aku sedang menjelaskan materi pelajaran sosial, siswa kelas II ini hampir tak ada yang menggubrisku sama sekali. Hanya ada dua dan tiga anak yang duduk di bangku paling depan untuk memperhatikan. Sisanya asyik dengan dunia bermainnya sendiri.

Saat ini hal yang ingin aku lakukan adalah berteriak sekuat-kuatnya dan menumpahkan luapan amarah, kesal, sedih, yang saling tindih dalam hatiku. Tiba-tiba Braak! Aku menggebrak meja. Seketika suasana menjadi tenang dan mereka mulai menghentikan aktivitas bermainnya. Aliran darahku mulai mengalir kencang dan aku mulai menguasai diri. Tiba-tiba aku teringat dengan nasehatl ustad Ifan kepadaku, “Jangan sekali-kali menggunakan hukuman fisik pada anak, kecuali kamu ingin menabur bibit dendam pada mereka,” ucapnya yang sampai saat ini masih ku ingat.

Aku menarik napas lega, rongga paru-paruku mulai dipenuhi hawa dingin. Pelan-pelan ku tatap wajah mereka, mencoba menyelami sorot mata mereka satu persatu.

“Sekarang apa yang kalian inginkan? Terus belajar atau bermain?” tanyaku memberi pilihan.

Mereka hanya diam, mungkin masih ada ketakutan pada diri mereka, suasana kelas masih terasa hening.

“Bermain atau belajar?” tanyaku lagi.

Mereka saling berbisik. Tak satu pun dari mereka memberikan jawaban yang jelas. Perasaanku semakin kesal, aku merasa seperti dipermainkan oleh bocah-bocah kencur ini. Mataku  mulai merah, ntah dari mana tiba-tiba bulir bening jatuh dari sudut mataku.

“Umi jangan nangis,” kata Ica yang duduk paling depan, tepat di depanku.

Aku segera mengusap air mataku sambil mengubah ekspresi wajahku agar terlihat tegar di depan mereka. Namun percuma, mereka sudah melihat derai air mataku.

“Anak-anak, umi minta maaf pada kalian. Umi belum bisa menyampaikan cara mengajar yang menyenangkan. Maukah anak-anak memberitahu umi, apa yang seharusnya umi lakukan agar kalian senang dalam belajar?” kataku dengan nada lembut.

“Delvi punya surat untuk umi,” teriak Ari.

Aku segera menghampiri Delvi yang duduk di barisan tengah. Selembar kertas terletak di atas meja. Aku mulai mengambilnya dan membaca dalam hati. “Umi, anak-anak ingin belajar bersama umi Annisa” demikian bunyi surat tulisan tangan itu Yang tidak tahu dari siapa. Seketika itu aku  langsung tersentak. Apakah mereka  tidak menghendaki saya mengajar sosial di kelas mereka? Ataukah karena aku guru baru sehingga kami memerlukan waktu untuk saling memahami? Ataukah anak-anak memang benar-benar tidak menyukaiku? Baiklah…

“Mengapa kalian lebih senang belajar sosial bersama umi Annisa?” tanyaku penasaran.

“Kalau yang ngajar  umi Annisa enak…”

“Iya, umi Annisa sabar”.

“Belajarnya santai. Kalau sudah selesai mengerjakan tugas boleh bermain…” teriak yang lain.

Suara anak-anak saling bersahutan menyampaikan pendapat. Aku merekamnya secepat kilat dalam otak. Beberapa poin penting telah ku tangkap dan intinya  mereka menginginkan suasana belajar yang nyaman, santai, namun tetap dalam proses belajar.

“Belajar sambil bermain? Aku seperti baru menemukan kalimat kunci yang dapat membuka pintu kebekuan selama mengajar anak-anak ini. Iya, belajar sambil bermain. Mengapa saya tidak mencobanya?” prologku.

“Baiklah anak-anak, bagaimana kalau mulai minggu depan kita belajar sambil bermain?” tanyak”

“Iya, kalau itu kamu mau..” ujar mereka bersamaan.

Memang berat untuk bisa masuk ke dunia anak-anak. Tidak seperti di tempat mengajarku dulu yang sikapku keras dan begitu berkuasa seakan malaikat Izrail yang siap mencabut aktivitas anak-anak kapan pun aku mau. Mereka tak punya pilihan selain mendengarkanku berceramah sambil duduk dengan tenang.

Aku sadar, gaya mengajarku yang membosankan kerap muncul meskipun beberapa teman umi-umi di sekolah ini sudah memberikan pelatihan pengelolaan kelas yang efektif untukku, seperti berdiskusi ringan yang sering kami lakukan. Tapi, tetap saja saat aku melangkahkan kaki ke dalam kelas, rasa takut dan gagap sering muncul saat ingin memasuki dunia mereka melalui  pendekatan yang berorientasi pada anak. Meskipun demikian, haruskah aku berputus asa?

Sepertinya tidak, aku tidak boleh putus asa. Dari makhluk suci tanpa dosa ini aku  harus kembali belajar menata hati, merekonstruksi pengalaman mengajarku selama ini, membangun harapan-harapan yang lebih realistis dan yang paling penting, aku harus selalu belajar mengakui kekurangan diriku untuk mengoptimalkannya kembali demi calon generasi rabbani.

“Terima kasih, ya Allah, Engkau telah  mengirim para malaikat kecil dalam sepenggal pengalaman hidupku untuk ber-watawa shau bil haqq watawa shau bish-shabri  (memberikan nasihat dalam kebenaran dan kesabaran).”

“Anak-anakku, I love you all.,” ujarku dalam hati

Editor        : Shofiatul Husna Lubis

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan