Foto: www.google.com

Penulis: Muhammad Ifroh Hasyim

Suasana kelas yang gaduh mendadak senyap ketika itu, seisi kelas langsung menoleh ke tempat duduk yang berada tepat di ujung, deretan depan, tepat berada di dekat pintu kelas kami. Wafa, wanita yang tengah duduk di sana mendadak tersedu-sedu, kami saling toleh satu sama lain. Bertanya-tanya apa yang telah terjadi. Ia kembali merogoh tasnya, satu-persatu barang yang ada di dalam tasnya berjatuhkan. Mulai dari buku tulis, buku pelajaran, kotak pensil, bedak, lipstik – yang keluar semakin tidak wajar pikirku. Tangannya berhenti, habis sudah sepertinya barang di dalam tasnya. Tangisnya semakin menjadi.

Teman yang berada di sebelahnya langsung menjadi sandaran tangis yang menyusul setelah itu. Ia terdengar tersedu-sedu mengatakan bahwa Smartphone barunya hilang, terjawab sudah keheranan kami. Menurutku, wajar saja ia menangis seperti itu. Tiga hari yang lalu ia baru saja memamerkan Smartphone barunya itu. Berulang-ulang ia katakan bahwa barang itu keluaran terbaru yang harganya mencapai puluhan juta.

Beberapa temannya pun mulai mendekat, menepuk-nepuk pundaknya sekadar  menenangkannya. Sebagian lain merapikan barang yang berjatuhan di lantai. Sebagian lain memilih untuk memperhatikan dari tempat duduk masing-masing. Sedangkan aku hanya bisa bergumam di dalam hati, “Memang tidak seharusnya ia membawa barang yang sifatnya berlebihan dan mewah ke sekolah”.

“Udahlah, biar jadi pelajaran buat kita,” ucap arifin, seorang teman yang duduk tepat di depanku.

“Paling enggak kan ada hikmahnya setelah ini, kita jadi lebih berhati-hati lagi kalau ninggalin barang di dalam kelas,” sambungnya sambil menoleh ke arah teman sebangkunya Rudi.

“Tapi yang jadi masalah, siapa pelakunya, kayaknya ini perdana kejadian di kelas kita,” sahutku menimpali. Kemudian mereka berdua menolehku yang sedang asik mengunyah sebungkus kacang sisa jajanan jam istirahat tadi.

“Setahuku, kita tadi semua salat zuhur. Gak ada satupun yang tinggal di kelas,” sahut Rudi

“Dan tadi kita sampai di kelas bersamaan, jadi gak mungkin pencurinya dari kelas kita,” tambahku menganalisa.

Sudah lima belas menit waktu berlalu, tapi guru kelas kami tak kunjung datang.

“Woi tan, gak pengen manggil guru?” teriakku ke arah ketua kelas yang sedari tadi hanya mondar-mandir dalam kelas.

Ia masih berjalan ke arah pintu, sesekali memeriksa kehadiran guru, kemudian menuju tempat duduk, memasang wajah bingung, lalu berjalan lagi menuju pintu, dan kembali lagi ketempat duduk, begitu seterusnya.

Ia menatapku, “Sabar ya, siapa tahu bentar lagi datang,” jawabnya sembari memasang wajah yang sudah berubah dari bingung menjadi khawatir.

Tangis Wafa sudah tidak terdengar lagi, ia meminjam telepon genggam teman disebelahnya untuk menghubungi orang tua.

Aku memutuskan keluar kelas. Rasa pengap semakin menjadi kalau keadaan sudah seperti ini, aku melangkah menuju ruang BK. Biasanya, disaat seperti ini guru konseling akan membantu. Ya, membantu setelah marah karena kami tidak mengindahkan larangan membawa barang-barang mewah ke sekolah.

Ruangan BK terlihat sunyi, pintunya tidak terkunci. Dua orang guru yang bertugas di dalam terlihat tengah memeriksa berkas. Secara bersamaan wajah mereka terangkat melihatku yang sedang berdiri. Yang satu wajahnya terlihat kejam, sedangkan yang satu lagi terlihat ramah. Aku mengenal dekat mereka berdua. Mengingat aku pernah dua kali diproses di ruangan ini. Sebagai terdakwa layaknya pesakitan yang telah melakukan pencurian uang puluhan miliyar. Padahal kesalahanku hanya karena sering terlambat.

“Ada apa nak?” tanya buk Nelly, guru konseling yang berwajah ramah.

“Ada kasus buk di kelas,” jawabku.

“Kasus apa?” tanya buk Rizka dengan memasang wajah galaknya.

“Kehilangan barang buk!”

Buk rizka mulai berdiri. Melangkah cepat keluar ruangan meninggalkanku. Tidak seperti harapanku yang berharap buk Nelly lah yang akan menyelesaikan masalah ini. Pasti dia bakal memarahi kami semua kalau begini.

“Ayo, cepat!” teriaknya memerintahku yang berjalan lambat di belakangnya.

***

Ruangan kelas mendadak rapi begitu buk Rizka memasuki kelas. Hanya menyisakan suara isak tangis Wafa yang masih terdengar. Aku melangkah sopan melewati buk Rizka, berjalan ke tempat duduk.

“Sultan, sini!” buk Rizka memanggil Sultan, si ketua kelas yang sedari tadi hanya menunduk dan melipat tangan, sembari memasang wajah takut.

Dengan perlahan Sultan bangkit dari tempat duduknya. Berjalan menuju ke meja guru yang sudah di tempati buk Rizka tepat setelah ia memanggil Sultan. Di depan mereka berbicara dengan nada yang amat perlahan. Aku yang duduk di kursi paling belakang tidak mendengar jelas isi percakapan mereka.

“Wafa, berapa nomor Hp ibumu!” buk Rizka berteriak kencang. Sultan yang berada tepat di depannya terkejut mendengar teriakan itu, kepalanya langsung menoleh ke arah Wafa.

Wafa berdiri dari tempat duduknya.Berjalan sambil menundukkan kepala. Sudah pastilah dia akan kena sembur, pikirku.

Buk rizka mengeluarkan telepon genggamnya. Mencatat setiap angka yang disebutkan Wafa.

“Wafa, Kamu ikut ibuk ke ruangan konseling sekarang, dan kalian, jangan membuat keributan, karena sebentar lagi guru bahasanya masuk.”

buk Rizka bangkit dari tempat duduknya, diikuti langkah Wafa yang hanya bisa menundukkan kepala.

Kelas yang tadinya tenang mendadak ribut kembali selepas buk Rizka keluar. Semua mulai sibuk dengan obrolan masing-masing. Ada yang membicarakan kasus kehilangan Wafa, ada yang memilih tidak perduli dan menceritakan hal lain.

Sementara aku memilih menghabiskan waktu mendengarkan teman sebangku menebak-nebak siapa pelakunya. Aku menyimak setiap analisa yang dia utarakan. Menebak segala kemungkinan. Padahal, akulah sebenarnya tokoh yang layak dijadikan tersangka. Aku memberitahu buk Rizka mengenai handphone mewah yang di bawa Wafa. Kemudian buk Rizka yang menyimpan handphonenya untuk dikembalikan ke orang tua Wafa setelah mereka membuat kesepakatan. Sesuai dengan perjanjian antara aku dan buk Rizka sebelumnya.

Sebab, aku punya prinsip. Sebuah kejahatan akan merajalela ketika orang baik hanya mendiamkan. Mungkin aku bukanlah orang baik. Tapi melakukan kebaikan adalah cara untuk menjadi baik.

Editor             : Shofiatul Husna Lubis

TIDAK ADA KOMENTAR