Penulis: Ahmad Azwar Batubara

Sore itu semua terlihat sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan tim asesor BAN-PT yang akan melaksanakan asesmen lapangan akreditasi  UIN SU. Tumpukan berkas tersusun rapi terlihat dimana-mana. Pasukan berkerah putih, silih berganti masuk ke dalam gedung rektorat, bahu membahu mengerahkan segala tenaga untuk proses akreditasi yang dilaksanakan pada 9-11 Oktober lalu. Senja mulai menampakkan lidahnya di ufuk barat, suara kumandang azan saling sahut-menyahut menandakan hari sudah maghrib. Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB, namun gedung birokrat masih ramai, hal ini menjadi pemandangan yang sangat berbeda, bahkan mengejutkan. Bukan hanya pada gedung birokrat, namun hampir seluruh fasilitas dan infrastruktur kampus menunjukkan perubahan yang signifikan.

Halaman dan pintu gerbang kampus misalnya, 1 hari sebelum proses asesmen lapangan, para pekerja sibuk lembur dengan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam) untuk merubah bentuk pola pagar dengan desain interior kekinian. Sangat disayangkan, kenapa harus dikerjakan 1 malam sebelum proses asesmen, kenapa tidak jauh-jauh hari, pasti hasilnya lebih maksimal dan lebih bagus. Namun, UIN SU juga harus berbangga, karena telah dibangunnya papan reklame pengumuman jadwal akademik untuk satu tahun ke depan

Akreditas memang sesuatu yang amat diidam-idamkan hampir di seluruh perguruan tinggi. Akreditas bahkan menjadi tolok ukur kualitas sebuah perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Bahkan meraih akreditas tertinggi “A” menjadi misi bagi setiap kampus.

Menurut hasil wawancara khusus bersama Dr. Asep Supena, M.Psi (Asesor BAN-PT) pada majalah edisi 44 (April 2017) memang sistematika peningkatan penilaian kenaikan akreditas yang pertama adalah peningkatan mutu sarana dan prasana. Namun bukan hanya itu, ada 7 standar yang harus di dorong untuk penaikan akreditas yaitu visi misi kampus, kata pamong, tentang manajemen kepemimpinan, mahasiswa dan lulusan, sumber daya manusia, kurikulum dan pembelajaran, sarana dan prasana, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Sudahkah 7 kriteria tersebut ditelaah dan diamalkan UIN SU? Kiranya diantara 7 point tersebut, kita masih tahap mencicil, mencicil dari tiap-tiap point. UIN SU dapat diibaratkan seperti seorang bayi, sebelum berjalan maka terlebih dahulu harus merangkak. Begitulah UIN SU, kampus yang sedang menuju perbaikan, katanya. Lebih terasa bila ditelisik dari segi sarana dan prasana kampus. Bangunan yang berdiri di sebelah Masjid kebanggaan kampus, mangkrak selama hampir 2 tahun. Berdasarkan hasil liputan Kampusiana dengan judul “Menunggu Anggaran Bangunan Terbengkalai”, pembangunan gedung tersebut dimulai tahun 2015, pilar bangunan tersebut mulai berdiri tegak namun mangkrak hingga material-material bangunan tersebut mulai berkarat. Lagi, pemicunya adalah masalah anggaran. Dana yang tidak kunjung cair menyebabkan proses pembangunan ini terhenti, tapi lagi-lagi karena akreditas, bangunan tersebut mulai dibangun kembali. Tiang-tiang penyangga mulai dibangun menjulang tinggi. Drs. Syafaruddin, M.A memaparkan bahwa bangunan ini akan dibangun 3 lantai dengan kapasitas 30 ruangan kelas. Bangunan yang akan menjadi penolong keresahan mahasiswa yang selama ini selalu kekurangan kelas.

UIN SU cukup berbangga, karena proses asesmen lapangan berbuah manis. Setelah selama ini terpuruk, bersawang di peringkat “C”, di penghujung tahun 2017 kampus UIN Sumatera Utara akhirnya meraih akreditas B hingga Oktober 2022. Sebuah penantian yang cukup panjang. Hasil kerja keras dan kerja ikhlas selama ini terbayar dengan meningkatnya akreditas UIN SU menjadi “B”. Tapi, banggakah kita dengan naiknya akreditas? Pantaskah akreditas UIN SU naik?

Budaya “abangda dan kakanda” penulis kira salah satu permasalahan yang selama ini menjadi problema kenapa UIN SU belum mampu maksimal dalam perihal kemajuan kampus, semua serba mulus kalau sudah mengucapkan “abangda/kakanda”. Belum lagi UKT (uang kuliah tunggal) yang mencekik leher mahasiswa, namun fasilitas yang didapatkan tidak sesuai. Fasilitas kecil seperti proyektor, kipas angin, ataupun pendingin ruangan (AC) masih menjadi bulan-bulanan mahasiswa untuk melengkapi pembelajaran mereka. Belum lagi jika mengulas mengenai sistem kurikulum pembelajaran, materi kuliah yang seharusnya dilengkapi dengan praktik dalam pembelajarannya, namun didiamkan karena kurangnya alat dan fasilitas untuk proses praktik. Sekiranya kampus lebih menilik dan memperbaiki hal-hal mendasar yang seharusnya diperbaiki. UIN SU memang harus memperbaiki citranya di depan masyarakat agar terlihat lebih Juara (Maju, Unggul, dan Sejahtera) dan menerapkan nilai-nilai keislaman di setiap sudut kehidupannya. Sekali lagi, haruskah kita bangga? Mari tanya dada tepuk hati.

Editor : Maya Riski

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan