Foto : Dinamika
Foto : Dinamika

Sambil menunggu penumpang, beberapa tukang becak terlihat duduk santai di atas becaknya. Tepatnya di samping bakso iga-iga di dekat trotoar jalan di samping Masjid Agung, seorang bapak berumur 45 tahun yang biasa disapa Tarmin terlihat duduk di atas becaknya, sembari menunggu penumpang, dia juga membantu Pak Koso meraut lidi yang nantinya akan dijual untuk tusuk sate dan donat. Menurutnya, ia tertarik untuk membantu Pak Koso, seorang penambal ban yang usianya sudah menginjak 67 tahun, “Saya tertarik untuk membantu pak Koso, karena dia kan sudah tua. Lagi pula kerjaannya juga banyak. Selain menambal ban, dia juga meraut lidi untuk dijual ke penjual donat dan sate,” ungkapnya sambil meraut lidi.

Tarmin, pria yang berprofesi sebagai seorang tukang becak yang juga merupakan ayah dari tiga orang anak ini, setiap harinya menarik becak dan berburu penumpang untuk mendapatkan rupiah demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Banyak orang di sekitarnya yang memandang rendah profesinya sebagais eorang tukang becak. Namun, tidak banyak orang yang mengira bahwa menjadi tukang becak adalah pekerjaan yang mulia.

Pria kelahiran Langkat, 18 Desember 1972 ini, kini tinggal dengan keluarganya di Desa Payaroba, Kecamatan Binjai Timur, Kabupaten Langkat ini setiap bulannya mendapat penghasilan yang tidak menentu,  mulai dari 500 ribu hingga 700 ribu rupiah per bulannya. Walau dengan penghasilan yang relatif minim, Tamrin tidak penah berkecil hati. Dia menganggap bahwa ‘jika setiap pekerjaan yang dilakukan dengan ikhlas, apapun itu profesinya, maka semuanya akan menjadi berkah’.

Tarmin mempunyai 3 orang anak. Anak pertamanya sudah menyelesaikan pendidikan tingkat SMK, dan saat ini sudah bekerja di salah satu bengkel di sekitar daerah tempat tinggalnya. Anaknya yang kedua masih sekolah di tingkat SMP kelas 2. Sementara anak ketiganya masih sekolah ditingkat dasar kelas 2. Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, Tarmin berusaha dengan baik untuk mengatur pengeluaran yang diperlukan keluarganya.

Setiap pekerjaan pasti ada resiko dan hambatan yang dihadapi. Tidak jarang Tamrin merasakan kesulitan jika becaknya sedang bocor atau pecah ban saat membawa penumpang. Aadapun begitu, dia tetap bersikap sabar dan ikhlas menerimanya, karena ia menganggap tidak ada pekerjaan yang tidak memiliki resiko, ”Tidak ada pekerjaan yang tidak memiliki resiko, kalau saya tukang becak ya inilah resikonya yang saya hadapi, kadang bocor ban dan kadang tidak ada sewa atau penumpang,” ungkapnya.

Menurutnya, semakin banyak kendaraan pribadi membuat kendaraan becak sebagai angkutan umum semakin tersingkir. “Sekarang dengan alternatif yang semakin mudah, semua orang bisa membeli kendaraan pribadi dengan cara yang cepat dan mudah. Makanya sekarang ibu-ibu mau pergi belanja pun sudah menggunakan motor,” ujarnya.

Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Tamrin rela menambah mata pencaharian untuk menambah penghasilannya. Oleh karenanya, dia memilih menjadi penjaga malam di Puskesmas Paya roba, Kecamatan Binjai Timur kota Binjai. Hal ini ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan untuk menyekolahkan anak-anaknya, “Memang kalau untuk mengandalkan hasil dari narik becak saja tidak cukup, makanya tukang becak itu ya harus punya pekerjaan lain untuk menambah penghasilan. Makanya saya memilih untuk jaga malam di Puskesmas Payaroba, Kecamatan Binjai Timur, kota Binjai,” ungkapnya sambil menunjukkan muka pasrah.

Tamrin, pria tangguh ini tidak pernah merasa lelah untuk terus berjuang mencari nafkah. Dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, dia masih saja terus di luar rumah untuk mencari penumpang. “Siang-malam tidak pernah berhenti mencari nafkah untuk keluarga, istirahat pun kadang-kadang gak teratur, itulah motivasi yang membuat saya terus berjuang dalam hidup ini,” ujarnya mengakhiri perbincangan.

 

Reporter         : Zulfikar Syahputra

Editor             : Nurtiandriyani S