Foto : www.google.com

Judul          : The Post
Rating        : 13 (untuk bahasa dan perang singkat)
Aliran         : Drama, Misteri, dan Ketegangan
Sutradara  : Steven Spielberg
Ditulis        : Liz Hannah , Josh Singer
Rilis           : 21 Februari 2018
Pemeran   : Meryl Streep, Tom Hanks, Sarah Paulson, Bob Odenkirk, Tracy Letts
Studio       : 20th Century Fox

Sebuah film tentang industri surat kabar yang berada di ranah drama sejarah politik dan jurnalistik Amerika Serikat (AS) seputar Pentagon Papers, diangkat dari kisah nyata mengenai pembeberan data yang seharusnya rahasia besar Pentagon di tahun 1971 menjadi bukti kebohongan pemerintah AS pada rakyat. Tentunya The Post memang tidak menyajikan topik drama yang ringan apalagi karena mengangkat sejarah yang kontroversial.

Ber-setting di tahun 70an ketika seorang analis militer Daniel Ellsberg (Matthew Rhys), menyadari bahwa keputusan pemerintah Amerika Serikat ternyata banyak pro kontra tentang perang Vietnam dengan fakta selama ini ditutupi, dia mengambil tindakan dengan menyalin dokumen rahasia yang menjadi arsip Pentagon dan memilih untuk mengungkap dokumen rahasia pemerintah ke public.

Drama makin bergolak namun formatif ketika cerita beralih pada kehidupan media The Washington Post dan juga persaingan sesama media The New York Times. Pada saat itu, pemilik Washington Post, Kay Graham (Meryl Streep), masih menyesuaikan diri dengan mengambil alih bisnis keluarganya dan dilema dalam melemparkan saham medianya ke publik. Sementara sang Redaktur Washington Post Ben Bradlee (Tom Hanks) menemukan New York Times telah meraup pusat perhatian dengan mengekspos dokumen rahasia tersebut.

Bertekad untuk bersaing, reporter Washington Post pun menemukan Daniel Ellsberg yang telah menjadi mantan analis militer dan mendapatkan salinan lengkap dari arsip tersebut. Namun, rencana Washington Post untuk mempublikasikan arsip Pentagon terancam oleh perintah penahanan Federal seakan membungkam kertas “yang masuk akal” dapat membuat mereka semua didakwa karena melakukan kontroversi.  Resiko pengungkapan kebenaran itu kemudian menjadi perdebatan Kay Graham dengan Redakturnya harus memutuskan apakah harus mundur demi keamanan perusahaan dan relasinya dengan pemerintahan atau menerbitkan dan memperjuangkan kebebasan pers. Dengan demikian, Kay dan stafnya bergabung dalam sebuah pertarungan menuju demokrasi Amerika Serikat sebenarnya.

The Post memilih untuk menyorot konflik internal media yang tak banyak dimengerti khalayak umum di antara Kay dan Ben yang sering berselisih paham sebagai pusat penceritaan dalam mempertaruhkan karir mereka dan kebebasan mereka untuk membantu mewujudkan kebenaran yang telah lama terkubur sampai terang. Skrip ditulis Liz Hannah dengan alur cerita yang disajikan dengan intens namun dipenuhi bombardir dialog dan sorotan kamera, di sini Steven Spielberg menyajikan riuhnya ruang redaksi, rapat para reporter tanpa henti, dan proses editor yang harus teliti, dan tentunya dalam tatanan yang tradisional hingga tempat produksinya. Ketegangan disajikan saat dokumen berhasil didapat, Para reporter berkumpul di rumah Ben untuk meracik arsip tersebut dengan waktu yang terbatas demi naik cetak di esok harinya.

Secara keseluruhan, The Post dalam pengisahannya mengharuskan penonton mengetahui sedikit mengenai latar sejarahnya, namun bukan berarti juga mengorbankan pace-nya menjadi alur yang sulit diikuti. Meskipun, di awal film terasa agak membosankan karena konteks keseluruhannya belum jelas. Emosi dalam tiap karakter tidak ada yang meledak-ledak tetapi tetap memuncak di beberapa bagian hingga sampai ke scene akhir di hadapkan dengan konklusi dari pilihan kebenaran, kebebasan, serta etika jurnalistik dalam sebuah napas penghargaan yang kuat.

Persamaan dengan 2018 sangat besar. Pertarungan di layar antara politisi dan wartawan, memboikot wawancara dengan beberapa outlet berita utama dan membelokkan pertanyaan tentang kebenaran maupun pelaporan cerita yang hoax. Berbagai suara menyatakan bahwa film ini dibuat untuk kepentingan melawan Trump menjadi Presiden. Sementara film ini mengingatkan sedikit soal Skandal Watergate – ditemukannya penyadap di kantor Partai Demokrat, yang kelak diketahui dipasang dan diprakarsai oleh Partai Republik yang kembali mengangkat Nixon sebagai Presiden AS. Untuk prestasinya film ini mendapat enam nominasi di Golden Globes 2018 dan dipilih sebagai Film Terbaik 2017 oleh National Board of Review. Ia juga berjaya di Writers Guild of America.

Presensi : Muamar Sidik Utomo

Editor     : Maya Riski