Ilustrasi : Fatimah Nurazizah

Penulis : Rahmanuddin

“Hwaaahh,” Pipit (Burung sawah) bangun dari tidur panjangnya di pagi yang berembun. Sarang mungilnya itu terbalut embun pagi di sawah. Tiada yang tahu kehangatan sarang miliknya pada waktu malam dan pagi. Sarang itu sudah ditempatinya sejak 4 bulan lalu, dan masih tergolong baru. Disana ia biasa menghabiskan waktu pagi, siang, sore, dan malam setiap hari.

Suasana hatinya begitu girang, cuaca kali ini benar-benar menyapanya dengan senyum manis si Mentari pagi. Belum lagi pohon tempat sarangnya bergelantungan bersama pipit lain kini sedang berbuah. Kegirangannya pun semakin bertambah. Tak lupa ia sarapan dengan pisang Raja Sore yang terpajang sepanjang hari. Tubuh mungilnya tak sanggup menyantap manis menggoda dari pisang yang mengenyangkan, tak lupa ia sisakan untuk esok dan lusa.

Pipit yang lain menyapanya sesama saudara, “Pagi, pagi,…” sebut pipit-pipit sedang melintas.

“Gubraakk,…” suara benturan sayap pipit yang melintas.

“Hati-hati!,” bilangnya keras.

Para Pipit, Sekseng, Puyuh dan lainnya bergegas mengepakkan sayap melintas di atas daratan. Sebagian sudah hilir mudik pergi dan pulang membawa makanan dan bekal yang didapat untuk santapan keluarga sore hingga malam nanti. Sedang ia, masih menikmati pagi seraya menghirup udara segar. Matanya begitu berat untuk dibawa bepergian. “Huuaaaah,…” ia masih kantuk berat akibat berjaga semalaman karena belakangan deretan sarang-sarang mereka diserang Musang malam.

Cadangan makanan yang dipetik kemaren masih tersisa di dapur. Ada beberapa helai padi dan bulirnya yang menunggu untuk disantap. Hingga siang bolong seperti ini, burung penikmat padi itu tak kunjung meninggalkan sarangnya. Si Pemalas adalah sapaan lembut untuknya oleh sesama burung pipit.

“Hei, gak pergi cari makan untuk malam nanti?” tanya Puyuh membawa beberapa ranting padi dan rerumputan sawah.

“Gak, masih ada persiapan,” jawab pipit pemalas.

***

Seberang sana, padi-padi girang bersukaria menyambut musim panen akan tiba. Padi-padi kuning berbobot, memiliki harga jual yang tinggi di pasaran. Usia tanamannya 3 bulan 2 minggu, tinggal menunggu seminggu lagi untuk bisa dipanen. Hamparan sawah yang luas terbentang dari barat ke timur dan dari selatan ke utara memberi warna kuning dan hijau ketika rombongan burung sedang menjelajah. Sebagian mulai menguning dan sebagian lagi baru memasuki usia 3 bulan.

semangat menggirang dari padi-padi itu semakin terlihat saat angin sepoi-sepoi menyapa sambil membawa mereka menari, menggeliat dan bersorak sorai hingga petang menjelang. Mentari sore segera tidur menunduk ke bumi dan akhirnya terbenam di sebelah barat. Rombongan-rombongan burung pun melukis indah langit sore dengan latar langit jingga di senja yang penuh kesan itu.

***

Keesokan harinya, lingkungan Pipit seperti Pohon Pisang, Petai, dan Kelapa yang banyak dijadikan sarang pipit sedang diintai Musang dan Biawak liar yang melantai di beberapa lobang tanah dekat rawa.

“Nanti malam kita harus berpitpit di balai desa,” ajak burung pipit di depan sarangnya. Berpitpit dalam artian katanya adalah bermufakat atau musyawarah, dalam bahasa burung pipit.

Kepala Desa dan para petingginya memimpin musyawarah pukul sepuluh malam hingga selesai. Yang menjadi pokok pembahasan musyawarah malam ini adalah berkenaan tentang perilaku hewan-hewan yang tinggal satu wilayah dengan mereka. Para burung tak mau kalah sebab mereka merasa bahwa burunglah yang lebih awal menempati wilayah ini, dan ada cukup banyak pepohonan yang bisa dijadikan sebagai sarang. Bersama burung puyuh, dan sekseng yang diwakilkan oleh pemimpin-pemimpinnya, mencari solusi mengatasi masalah-masalah itu.

“Pokoknya kita harus cari cara untuk bisa mengusir mereka dari wilayah kita. Ini sangat mengganggu. Jika perlu kita meminta bantuan pada para elang,” kata pemimpin musyawarah mewakili rombongan burung sekseng.

Meskipun keresahan dan ketakutan dari kaum betina terus berlanjut, para burung yang mengikuti berjalannya musyawarah belum mendapat solusi dan kata sepakat. Terdengar suara-suara berisik dari atas pohon kelapa tempat diselenggarakannya musyawarah darurat itu. Balai Desa burung pipit dijadikan sebagai tempat untuk menyelesaikan masalah. Pohon tertinggi di wilayah tempat tinggal burung pipit biasanya dijadikan sebagai balai desa.

“Apa yang mesti aku lakukan yah,…?” pikir Pipit pemalas bertanya.

Ia memutar otak untuk menggali ide brilian yang bisa diandalkan untuk mengusir atau sekedar menghentikan kelakuan biawak, ular atau yang sejenisnya yang mengancam kenyamanan para burung.

Pukul 5 sore idealnya para burung kembali ke sarang. Tujuannya agar perut terisi penuh namun selamat dari pantauan Elang, Burung Hantu, dan pemangsa lainnya. Tidak dengan pipit yang satu ini, meski mentari sore akan kembali ke ufuk barat, ia masih asyik mengepakkan sayapnya di udara sambil menikmati angin pembawa tidur.

Dua bola matanya melirik tajam ke arah pukul 06.00 Sambil mengudara di atas permukaan tanah, dua ekor biawak besar berlarian di area persawahan. Baru kali ini ia asyik menyaksikan perkelahian biawak di area persawahan, sebab biasanya biawak lebih suka bermain di rawa-rawa yang tertutup pepohonan.

Beberapa menit kemudian, ia menyelinap di balik dedaunan tebal berwarna hijau kecokelatan sesuai dengan warna sayap dan ekornya untuk melanjutkan tontonan seru nan menegangkan, “Kenapa mereka berdua yah, Apa yang mereka perebutkan,?” tertanya berbicara sendiri.

Dua ekor biawak itu tak terjangkau lagi oleh pandangannya. Bersama kepakan sayapnya, mengudara cukup dekat dengan bulir-bulir padi. “Apa tuh?” kejutnya gerakan cepat tiba-tiba melintas. Siapa lagi kalau bukan dua ekor biawak tadi. Ia ingin melerai pertengkaran yang tak berguna baginya tersebut. Rencana baik itu gagal sebab itu hanya tradisi kawanan biawak bila tiba masa kawin.

“Nyamm, nyamm,” (suara sedang menikmati makanan).

“Hah, mereka memakan padi juga?” tanyanya melirik dua ekor biawak tadi.

***

“Hei Tuan kami, kemanakah engkau wahai tuan kami. Jemputlah kami sebelum burung-burung menyantap kami,” nyanyian padi pada Sang Empunya.

Sudah seminggu lebih padi-padi dirindu berat terhadap sang pemiliknya. Mereka merindu berat takut rejeki Pak Tani hanya tinggal batang saja. Sebab, gerombolan besar unggas mengudara di atas sawah milik pak tani. “Datanglah, datanglah, datanglah,” sambung mereka bernyanyi.

Padi kian menunduk sebab bulirnya yang padat berisi. Jika pak tani datang dan terus memantau sawah, adalah keberuntungan besar baginya. Kini, yang makin ditakuti padi-padi yang sedang menunggu masa panen ini adalah kerakusan para biawak yang turut memakan padi-padi milik pak tani. Namun, penantian seminggu lebih belum terobati. Daun-daun yang beterbangan bertiup dari utara ke selatan. “Uuiiiyyy,….” suara angin membawa terbang capung-capung di sore hari.

Si pipit pemalas itu terbang mengarah ke sawah milik pak tani cukup dekat dengan sarangnya. Namun, rombongan burung pipit dan burung-burung lainnya belum tahu soal tempat satu ini. Padi yang menunduk itu membuat perutnya tak pernah merasa lapar meski sering membawa bekal dibawa pulang. Namun, antara si pipit dan padi-padi itu pernah berjanji, tatkala pipit dan padi-padi milik pak tani itu bersepakat untuk tidak akan mempublikasikan kabar ini kepada siapapun selain dirinya. Artinya, hanya si pipit pemalas ini yang bisa makan sepuasnya, ini adalah jamuan memuaskan setiap hari bagi pipit, dan padi-padi pun tidak merasa merugi sama sekali. Janji itu terucap sejak 2 minggu belakangan. Setelah kenyang, pipit yang dicap malas oleh kawanan burung pipit ini langsung pulang ke sarang, itulah sebabnya ia jarang ikut dengan rombongan burung untuk mencari makan.

***

Musyawarah kedua dimulai malam ini. Seperti musyawarah pertama, kali ini juga dihadiri oleh perwakilan dari burung-burung lain yang seatap dengan mereka. Si pipit pemalas itu masih ikut di musyawarah kali ini. Dua hari lalu saat menikmati bulir-bulir padi yang padat mengenyangkan terpikir olehnya untuk dijadikan sebagai umpan untuk mengusir biawak-biawak. Kesukaan yang menggila yang dilakukan beberapa ekor biawak sontak si pipit yang berada di barisan terakhir mengajukan sebuah solusi. “Saya ada temukan padi yang padat berisi. Mungkin mereka akan sangat suka. Dengan syarat kita berikan seluruh padi-padi sawah milik pak tani itu kepada biawak, tapi mereka harus rela meninggalkan wilayah ini agar mencari tempat baru,” terang pipit tersanjung.

Tanpa berpikir panjang dan lebar, Kepala desa dan para perwakilan dalam rapat itu memutuskan untuk bergerak bersama kawanan burung menuju tempat yang selama ini dirahasiakan si Pipit pemalas itu.

Antara biawak dan burung-burung telah bersepakat, dengan padi padat melimpah dan tanah yang mudah digali bermaksud untuk ditinggali biawak, mengantarkan mereka ke lokasi yang dimaksud. Dengan semangat gerilya, sambil bernyanyi dan teriakan yang menandakan kemengangan, tidak ada pertempuran apalagi cucuran darah dari kedua kubu. Sedang padi-padi yang senang girang itu masih menunggu pak Tani yang tak kunjung tiba. Bernyanyi berharap yang dinanti datang. Namun, rombongan burung bak pasukan lebah bertameng datang menyerbu. Satu per satu mendarat di atas padi-padi.

Suara lari kencang menggerutu dari belakang. Pasukan biawak yang menahan puasa seharian sebab dengan sengaja menahan nafsu makan dari pagi hingga matahari akan tidur ke panggung mulanya. Alangkah malang nasibmu padi-padi. Tuan-mu belum tiba hingga kau begitu menyerah akan penantian panjang-mu. Pak Tani yang kau tunggu telah tiada. Lantas apalah dayamu, apa yang akan kau perbuat.

Si Pipit datang di luar jadwal. Paruh-paruh mungil itu mematuk dan sangat menikmati bulir-bulir padi padat enak di perut.

Janji dua minggu yang lalu sudah terlanggar. Ia mungkin lupa akan kesepakatan di sore hari dua minggu lalu. Tentu juga ia lupa akan karma bilamana ia ingkar. Pipit sang pemalas juga tahu betul soal selera makannya yang berlebihan. Kerakusannya dan ingkarnya akan membawa kepada kejadian yang akan terjadi. Padahal ia telah berjanji untuk tidak mengajak siapapun ke sawah milik pak Tani, sebelum pak tani mengunjungi mereka. Meskipun penantian hanya beberapa hari lagi, kesabarannya sudah goyah.

***

Keadaan sudah aman. Hari-hari begitu menyenangkan. Bekal yang telah dimuat digudang cukup untuk perkiraan menunggu musim panen kembali tiba. Sedang saat ini petani masih menanami sawahnya dan burung terus berkelana untuk menambah persiapan di gudang.

Tibalah yang tidak diinginkan pun terjadi. Rencana gudang yang besar itu dapat menampung banyak bulir beras, terjadi insiden yang mengacaukan. Biawak-biawak besar itu kembali ke sarangnya. Karena sudah tidak menemukan padi menguning, biawak berencana untuk kembali ke sarang dan berganti makanan.

Gudang besar dimasuki 5 ekor biawak. Kondisi perut tengah kosong. Bekal 3 bulan disantap habis. Hanya tersisa untuk beberapa minggu, begitu perkiraan burung.

“Apa yang terjadi?” Teriak si Pipit.

“Ini ulah Biawak tak tahu terimakasih itu,” suara penyesalan Kepala Desa.

Tiga minggu berselang, kondisi wilayah tempat tinggal burung pipit kian parah. Satu per satu burung bermigrasi mencari tempat baru. Biawak menyasar burung jadi santapannya, hingga paling parah adalah, banyak burung yang mati kelaparan.

Si pipit yang enggan meninggalkan wilayah tempat tinggalnya, akhirnya menyesali perbuatannya kala itu. Ia sangat menyesal tapi hanya bisa berdiam diri.

Editor : Aminata Zahriata

TIDAK ADA KOMENTAR