Foto: www.google.com

Penulis: Tengku Nurul Hikmah

Sampai kapan mau menunggu

Sampai kapan mau menghindar

Sampai kapan mau mencari alasan

Sudah lama aku sibuk mencari kesana kemari tentang tujuan dan impian yang harus ku gapai.

Aku terlalu banyak berfikir apa yang harus ku lakukan, hingga tidak jarang belum ada satu pun yang terselesaikan.

Hampir di penghujung waktu aku baru ingin memulai memberanikan diri sendiri untuk mendekatkan diri dengan orang lain, sedang yang lain sudah sibuk mempersiapkan alat untuk berperang pada waktu yang telah ditentukan.

Aku Dewi Sukma, hidup dengan banyak pertimbangan namun besar angan akan kehidupan, seorang anak dari keluarga yang kurang berkecukupan yang memiliki masalah dengan keberanian dan terhambat dengan sifat menunda-nunda terhadap pekerjaaan.

03 Januari 2018

“Kak, bisa kita bertemu besok? Saya rindu kakak.” Tanya Dewi kepada teman kelasnya dengan penuh harap.

“Boleh, tapi ada apa ya?” Tanya teman sekelasnya.

“Besok adek ke kos kakak boleh, kak?” Pinta Dewi.

“Oh, yaudah boleh kak, jam 9 atau 10 ya, kak” Jawab teman sekelas Dewi.

Rasa gembira itu begitu saja timbul dalam diriku karena aku akan berjumpa dengan teman sekelasku, berharap dengan bertemu dengannya aku bisa menyelesaikan tugaskku. Namun seperti biasa setelah mendapatkan balasan whatsApp tersebut, aku mulai takut dan merasa aku kembali menunda pekerjaaanku yang seharusnya bisa aku kerjakan sendiri di hari-hari yang lalu dengan tidak mengharapkan bantuan orang lain. Namun yang aku lakukan hanya tertidur lalu tertidur kembali menunggu esok hari akan datang dan berharap masih ada waktu untuk menunda menyelesaikan semua tugas yang menumpuk.

Seperti biasa, aku menganggap bahwa tidak akan ada hal buruk apapun yang terjadi padaku, padahal aku telah banyak menunda mengerjakan pekerjaaanku, aku takut, aku bingung tapi perasaan dengan kata “tak apa” selalu menemaniku.

***

04 Januari 2018

Pagi ini aku berniat untuk mengerjakan tugas-tugasku yang sudah lama tertunda untuk dikerjakan. Namun aku teringat janji untuk menemui teman sekelasku hari ini, tanpa berfikir panjang aku sigap membantu ibuku dengan menyiapkan pakaian sekolah adik-adikku dan menyiapkan makanan untuk mereka.

Tak membutuhkan waktu lama untuk aku menemukan alamat temanku.

“Kak, kakak ada di dalam?” tanya Dewi.

“Iya kak, masuk saja, nggak di kunci, saya di dalam kak.” Jawab teman kelas Dewi.

“Kak, adek banyak tugas kali kak, di sekolah sudah dapat peringatan kak, bagaimana ini kak?” Tanya Dewi.

“Sudah begini saja, tugas menumpuk karena nggak dikerjakan-kerjakan, sekarang paksa untuk kerjakan, terus menulis, banyak baca, jangan berhenti dikerjain, memang sih kita harus pandai mengatur waktu dan diri, intinya jangan suka menunda melakukan segala sesuatu,” jawab teman sekelas Dewi.

“Tapi banyak kali tugasnya kak, bagaimana ini kak, saya bingung mengerjakannya,” keluh Dwi kembali.

“Tidak apa-apa kak, kakak kerjain saja dulu nanti saya bantuin untuk memperbaiki tugasnya kakak,” jawabnya dengan tulus.

Di ruangan kuning yang sederhana dan rapi ini, si pemimpi besar namun penunda di kejar waktu tengah bertekad untuk menyelesaikan tugas-tugasnya dengan waktu yang amat singkat.

Waktu adalah Pedang

Barang siapa yang tidak menggunakan waktu dengan sebaik-baik mungkin,

Maka dia akan menebasmu dengan banyaknya kesempatan yang hilang

Editor : Maya Riski

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR