Foto : www.goodreads.com

Judul Buku     : Tuhan Pasti Ahli Matematika

Penulis           : Hadi Susanto

Penerbit         : PT. Bentang Pustaka

Tahun Terbit   : 2015

Tebal             : 158 halaman

Matematika itu susah dan membosankan. Matematika juga tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Demikianlah pendapat yang sering kita dengar di masyarakat umum terhadap matematika. Karena dianggap susah, matematika sering kali menjadi hantu di kelas-kelas bahkan karena sudah menganggap diri tidak bisa, siswa akhirnya merasa terpaksa duduk di kelas saat pelajaran matematika.

“Selama manusia masih berpikir dan kehidupan masih berkembang, akan selalu ada yang baru dari matematika” (hlm. 6). Banyak yang beranggapan bahwa matematika adalah ilmu yang monoton. Selalu membahas perihal angka-angka yang membuat sebagian orang pusing melihatnya bahkan sampai ada yang alergi saat mendengar namanya.

Dalam kehidupan alam semesta yang kita lalui saat ini, tanpa kita sadari kita telah menggunakan prinsip perhitungan matematika. Misalkan saja dalam kasus pergerakan benda-benda langit di alam semesta yang ternyata dapat dituliskan dalam rumus matematika. Inilah mengapa keajaiban matematika dalam menjelaskan alam semesta dan isinya sudah menjadi bahan perenungan para ilmuwan sejak lama.

Matematika berkembang sesuai kebutuhan manusia setiap zamannya. Seperti yang ditemukan pada beberapa negara di dunia. Di Australia, matematika disebut dengan Mathematic in Industrial Study Group. Dan di Amerika Serikat juga ada yang disebut dengan Mathematic Problems in Industry. Maka pada beberapa cabang dari ilmu matematika itu sendiri, sering sekali ditemukan batas yang tidak jelas antara satu dengan lainnya. Dalam hal ini, penulis menyebutkannya dengan semakin tinggi kita sekolah dan belajar, semakin tidak jelas batas antara satu bidang ilmu dan bidang ilmu lainnya.

Hadi Susanto dalam bukunya Tuhan Pasti Ahli Matematika merupakan sebuah refleksi kepada pembaca betapa Tuhan menciptakan segala sesuatu yang ada di alam semesta merupakan hasil perhitungan yang telah ada sebelumnya. Perihal ciptaan-ciptaan Tuhan dari yang terbesar sampai yang terkecilpun ada perhitungannya.

Ternyata sesungguhnya matematika itu juga bisa dikatakan ilmu Islam. Matematika tak terpisahkan dari ilmu-ilmu syariat yang termaktub dalam Alquran dan Hadis. Menghitung waris itu pakai matematika, ilmu falak untuk mengetahui kalender hijriah yang terkait dengan ibadah salat dan puasa juga menggunakan ilmu matematika, pembagian zakat juga menggunakan ilmu matematika. Bahkan salah satu faktor kemenangan Rasulullah Saw dalam Perang Badar juga karena ketepatan Beliau dalam menggunakan ilmu matematika.

Dalam kehidupan ini, kita harus memilki sebuah prinsip bahwa sesungguhnya penentu kesuksesan dan keberhasilan masa depan kita ada dua, Tuhan Sang Pencipta dan diri kita sendiri. Keyakinan bahwa Tuhan adalah penentu kesuksesan membawa konsekuensi pada penyampaian nilai-nilai spiritual yang selalu inheren dalam setiap diri manusia. Namun, kita harus ikhtiar. Sesungguhnya faktor penting kesuksesan dan keberhasilan seseorang adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Tuhan yang Maha Esa sangat melihat ikhtiar dan usaha kita, bukan usaha orang lain. Ini merupakan salah satu nilai falsafah hidup dari bilangan prima.

Contoh lain bisa ditemukan yakni tentang vektor. Berdasarkan pengertiannya, vektor merupakan besaran yang mempunyai titik pangkal dan arah. Filosofi hidup yang bisa dihayati dari hal ini bahwa di kehidupan ini ada dua unsur yang sangat penting yaitu, niat dan tujuan. Keduanya harus baik dan positif. Niat hidup ini adalah ibadah dan membawa kemanfaatan bagi sebanyak mungkin orang dan lingkungan kita. Jika niat belum tepat, harus diluruskan dan diperbaiki dulu.

Buku yang dimulai dengan judul bab penuh tanda tanya, “Apa Ada yang Baru di Matematika?” merupakan sebuah pembuka bagi para pembaca agar mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut. Di sini penulis berusaha menceritakan bagaimana awalnya ia memilih untuk mengambil jurusan matematika karena sejatinya penulis merupakan seseorang yang ahli dalam bidang ilmu tersebut.

Pada setiap judul sub bab yang dibubuhi dengan sebuah kutipan dari penulis dapat memancing para pembaca untuk segera melahap ludes cerita demi cerita yang disajikan dalam gaya tulisan yang sangat langka ditemui serta tema-tema yang dipilih yang mampu menggambarkan keluasan dari matematika itu sendiri.

Buku dengan sampul berwarna perpaduan hijau dengan hitam ini mempunyai pemikat tersendiri lewat ilustrasi yang menampilkan sedikit simbol matematika dengan judul yang berukuran besar mampu membuat orang penasaran akan isinya. Apalagi tersematkan di bagian sampulnya bahwa kata pengantar dari buku ini berasal dari Habiburrahman El Shirazy, seorang sastrawan nasional. Hal tersebut menambah rasa penasaran untuk segera membaca buku karangan profesor muda dari Indonesia yang kini mengajar di Universitas Massachusetts Amherst, USA.

Banyak pandangan orang mengenai matematikawan yang dianggap telah kelewat batas. Pertama, matematikawan mempunyai gangguan mental. Kedua, matematikawan adalah orang yang sombong dan kasar. Ketiga, matematikawan orang yang antisosial. Dari beberapa pandangan tersebut, maka terdapat beberapa ciri lain yang dapat kita bicarakan, seperti matematikawan harus cerdas sejak kecil dan membuat prestasi pada usia muda padahal, banyak sekali hasil penelitian matematika yang penting ditulis oleh orang yang tidak muda lagi. Cerita demi cerita yang disajikan pada setiap babnya memberikan beberapa penegasan mengenai bidang ilmu matematika.

Buku ini sangat direkomendasikan kepada seluruh sekolah, pesantren maupun perguruan tinggi. Agar para generasi muda bisa menggandrungi matematika dan dapat mengetahui mukjizat yang ada di dalamnya. Sebab dalam setiap bagiannya mermuat cerita yang gurih dan bergizi. Apalagi ketika membacanya, seperti membaca kumpulan cerpen yang tidak membosankan namun justru sangat mengasyikan.

Peresensi : Syafrita

Editor       : Iin Prasetyo

TIDAK ADA KOMENTAR

Membawa Makna Meraih Cita