Foto : Dok. Dinamika

“Menulis adalah suatu hal yang tidak boleh menjadi asing, karena kita orang akademisi” Ungkap Dr. Ja’far, MA.

Manusia pada fitrahnya diciptakan dengan kemampuan yang dibakatkan kepadanya. Salah satu kemampuan itu ialah menulis. Sebagai mahasiswa, menulis bukan lagi hal yang tabuh untuk dilakukan. Jenis tulisan pun beragam, mulai dari fiksi seperti Cerpen, Puisi, Novel dan lain-lain, hingga non fiksi seperti Karya Tulis Ilmiah, Autobiografi dan sebagainya.

Mahasiswa yang lebih sering bergelut dengan Karya Tulis Ilmiah, tentunya lebih mudah memahami bahasa Ilmiah yang setara dengan intelektualnya. Namun, apakah makalah yang selama ini kita kerjakan cukup bagus sehingga dengan matang mengukir nilai A? Mari kita evaluasi dan revolusi.

Pada Workshop Peningkatan Mutu Karya Ilmiah Mahasiswa yang diadakan oleh Lembaga Penjamin Mutu (LPM) UIN Sumatera Utara di Hotel Putra Mulia, yang diselenggaran selama 2 hari yakni 14-15 Maret 2018, dengan mengundang narasumber Dr. Ja’far, MA dan Dr. Mustafa Kamal, memberikan banyak sekali ilmu diantaranya Ilmu untuk terus menulis, cara membuat abstrak, tesis statement, motivation letter dan lain-lain.

Seperti yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Amroeni Drajat, M. Ag saat sedang membuka acara ini secara resmi. “Semua mahasiswa bisa menulis, namun tidak semua yang bisa menulis itu menjadi seorang penulis,” ungkapnya. Dan ternyata, kalimat ini cukup mampu menggenjot semangat peserta untuk konsisiten menulis. Dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan dari mahasiswa yang penasaran dengan rahasia konsisten dalam menulis.

Dalam pengantarnya Dr. Ja’far, MA menyampaikan bahwa menulis adalah cekokan pengalaman dan praktik. “Menulis bukan harus dicekokin oleh teori saja, yang terpenting itu adalah pengamalan dan praktiknya,” ujarnya. Mengawali workshop pagi ini, ungkapan Dr. Ja’far menyeru kita untuk berfikir, selama ini makalah kita hanya berisi kutipan-kutipan tanpa disandingkan dengan pendapat dan analisis kita sebagai pemakalah. Kadang kala justru lebih banyak kita melakukan aksi plagiatisme baik secara sadar maupun tidak sadar. Kalau ini terus berlanjut, maka imbasnya adalah kualitas SDM yang kian menurun.

“Plagiatisme itu bisa terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja karena ketidaktahuan kita tentang cara mengutip langsung dan tidak langsung,” terang Ja’far. Dalam mengutip karya atau pendapat orang lain ternyata memiliki teknik yang berbeda, karena ketidaktahuan kita akan hal itu menyebabkan kita dianggap sebagai plagiatisme. Maka dari itu, perlu mempelajari cara mengambil kutipan langsung dan tidak langsung.

Dan terakhir Dr. Mustafa Kamal menyebut bahwa penggunaan diksi dalam menulis adalah salah satu dari beberapa hal yang mesti dikuasai penulis. “Seorang penulis harus menguasai beragam kata termasuk anonim dan sinonim. Menguasai penggunaan diksi. Karena sejatinya seorang editor harus kaya akan kalimat, terutama kalimat penghubung,” tutupnya.

Dengan demikian jadilah penulis dan penyunting naskah yang menguasai kosa kata dan kaya akan kalimat-kalimat penghubung yang bervariasi. Sehingga naskah kita akan terasa mengalir saat dibaca.

Reporter : Aminata Zahriata