Foto: www.google.com

Penulis : Shofiatul Husna Lubis

Malam minggu, suasana yang kerap ditunggu kaum muda, begitu juga denganku. Seperti malam sebelumnya, sudah menjadi kebiasaanku dan adik perempuanku keluar mengendarai motor matic. Sekedar berkeliling menikmati indanya Kota Medan, dan menikmati ramainya kendaraan yang berlalu-lalang di area jalan raya. Semakin malam, dinginpun kian menusuk keheningan, padahal waktu masih menunjukkan pukul 20:45 WIB.

Dan.. di malam ini kisahku bermula…

“Kita ke mana lagi kak?” Tanya Nisa, adikku.

“Terserah, yang penting jalan-jalan,” kataku dengan posisi dibonceng

Jilbabku terasa melambai-lambai diterpa semilir angin. Kami terus bercerita diselangi dengan tawa. Tanpa terasa kami sampai disimpang jalan yang cukup ramai hingga membuat kendaraanku berhenti. Hingga fokusku tertumpu pada sesosok wajah yang tak asing kulihat, dan menyisakan segaris senyum, berkelah manuju arah yang lain.

“Kak sepertinya ada yang ngikutin kita,” celetuk Nisa saat melihat dari spionnnya.

Aku yang tak begitu peduli akhirnya mencoba melirik ke belakang, dan ternyata benar.

“Gimana ni kak?” tanya Nisa yang mulai khawatir.

“Udah tenang aja, insyaallah dia bukan orang jahat,” Kataku meyakinkan.

Nisa spontan mempercepat laju motor. Perasaanku kian mencari ttitik temu, siapa yang sedang mengikuti kami. Sejenak kami bergantian untuk membawa motor, ternyata yang sedang mengikuti kami adalah laki-laki. Aku semakin curiga, dan bertanya-tanya, apa yang diinginkannya, sepontan kami mempercepat gerak kami. Hingga rasa curigaku terhenti, saat laki-laki itu mendekati kami.

“Mau ke mana Mbak?” tanyanya.

“Mau tahu aja,” jawabku spontan, hingga membuatnya merasa lucu.

“Serius loh Mbak, mau ke mana?” tanyanya lagi

“Mau pulang ke sana,” jawabku sekenanya

“Masih sekolah atau kuliah Mbak?” tanyanya lagi

Spontan hatiku tertegun mendengar satu pertanyaan itu, dan membuatku membuat kesimpulan bahwa dia seorang lelaki yang baik.

“Masih sekolah kelas 2 SMA,” ucapku pelan.

Disepanjang jalan aku dan Nisa terus berbincang. Kini aku mulai tahu maksud lelaki yang mengikuti kami tadi. “Mungkin lelaki itu bingung bagaimana cara berkenalan denganku,” pikirku, mengambil kesimpulan. Tiba-tiba, dengan spontan lelaki itu meminta nomor handphoneku, yang nyatanya sedari tadi masih mengikuti kami.

“Hmm boleh minta nomornya Mbak?” tanyanya sambil merogo handphone di dalam saku celana. “Nomor apa? Nomor sandal?” kataku asal sambil tertawa kecil.

“Nomor Hp,” katanya yang juga ikut tertawa.

Dengan tenang aku mencoba menyebutkan nomorku satu persatu. Aku hanya bisa berpikir positif hingga kami tertegun di sebuh gang menuju rumah.

“Mau ke mana lagi Mbak?” tanyanya.

“Mau pulang!,” kataku sambil menunjuk gang yang berada di depanku.

“Kalau begitu hati-hati ya, syukran…”ujarnya setelah melambung pergi meninggalkan kami. “Afwan…” jawabku

Handphoneku bergetar, tanda satu pesan telah diterima,

Assalamualaiki Ukhty, salam ta’aruf ya? Ni nomor ana yang tadi jumpa di jalan, nama ana Faris, maaf ya kalau pakaian ana tadi kurang syar’i, salam kenal ya…”

Perasaanku mendadak aneh, hingga membentuk segaris senyum dibibirku.

“Kakak kenapa? Tanya Nisa.

“Tidak,” ucapku sambil meninggalkan Nisa

***

Tak terasa cerita terus, berlanjut hingga ke tahap yang lebih serius. Maksud ku lanjut ke tahap pertemanan. Hari ini adalah pertemuan keduaku dengannya tepatnya di simpang jalan menuju ke desa sebrang. Seperti biasa aku kembali duduk santai di belakang, tapi kali aku dibonceng oleh sepupu perempuanku.

“Dia di mana Rin?” tanya Lisa mulai penasaran.

“Yang itu dia bukan?” tanya Lisa memastikan.

Pandanganku tertuju pada sesosok lelaki berbaju koko. Mendadak jantungku berdebar-debar mengawali pertemuanku.

“Masyaalllah, aku kenapa?” tanyaku dalam hati

AssalamualaikumUkhty?” sapanya yang membuat jantungku semakin berdebar.

“Ini Alquran yang ana janjikan,” sahutnya

Syukran Akhy,” kataku sambil menjauh meninggalkan.

Sesampai di rumah rasanya senyumku kian mengembang, sambil memandangi layar handphoneku. Kini dia mulai mengajariku berbahasa arab via sms. Aku semakin bahagia mengenalnya. Karena Allah dan dengan jalan yang unik pula. Hari-hariku terasa berubah, aku tak lagi menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat sebab aku ingin berubah dan tetap istiqamah.

Sejak saat itu, aku mendadak banyak bertanya seputar agama yang belum ku ketahui. Apapun itu yang mengganggu di hati dan pikiranku. Bahkan tentang bagaimana pendapatnya mengenai pacaranpun aku tanyakan, dan nyatanya dia menjawab, “Di dalam islam, tidak ada yang namanya pacaran, yang ada hanya ta’arufan ukhty”.

Rasa kagum ini semakin mendalam saat aku mendengar setiap jawabannya. Hingga akhirnya kucoba bertanya hal yang mengejutkannya.

Akhy, maaf jika Rindu bertanya tentang hal ini, bagaimana pendapat akhy dengan kedekatan kita, dan disebut apa kedekatan kita ini?” tanyaku sambil tersenyum memandangi layar handphoneTerserah ukhty mau anggap apa, yang jelas ana gak mau disebut pacaran karena itu diharamkan,” jawaban itu membuatku diam sesaat. Seperti ada benih-benih kekaguman yang semakin menguasai hatiku, tapi secepat mungkin ku tepis dan aku menyetujui jawabannya. Aku mulai paham, bahwa rasa yang dimiliki tak harus berujung status seperti yang selalu diharapkan banyak orang.

***

Tepat di malam bulan suci Ramadhan, aku dan lelaki yang kini mengisi relung hatiku kembali menjanjikan pertemuan di tempat biasa. Malam ini aku mulai mengenakan gamis berwarna biru muda yang menutupi seluruh tubuhku. Ntah mengapa aku ingin terlihat berbeda di depannya malam ini.

Assalamualaikum...ukhty, ini kurmanya,” sapanya ketika kami berhadapan

Ukhty, mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir kita, sebab ana akan,” ucapannya seketika terhenti.

“Kenapa?” tanyaku penasaran.

Ana akan melanjutkan study ke Kairo,” katanya dengan suara berat.

“Jadi akhy akan pergi?” jelasku dan langsung dijawabnya dengan anggukan pelan.

“Baguslah, Rindu akan mendukung apapun yang terbaik menurut akhy,” kataku berlagak bijak.

Berat rasanya, namun kutahan. “Cepat Rin, sudah mau masuk salat isya ni” celetuk Lisa sudah tidak sabar. Aku bergegas pulang. Dia masih mencegahku dengan kata-kata yang membuatku terdiam, “Ana akan mengejar impian ana dan ukhty pun juga, jangan risau, berdoalah semoga Allah menyatukan kita nanti,” ucapnya. Aku terdiam, dan tiba-tiba bulir bening mendarat dari sudut mataku, dan kembali melanjutkan langkahku.

Editor        : Siti Arifah Syam

TIDAK ADA KOMENTAR